Antara OSKM dan Seni Rupa (2)

12:18 PM

Mari kita lanjutkan tulisan sebelumnya.

Saya sebenarnya kurang tahu impresi anak teknik lainnya terhadap anak seni rupa (SR). Seluruh pendapat dan pandangan yang saya buat ini sepenuhnya berdasarkan diri saya sebagai anak SR.

Waktu SMA, karena anak IPA, mau gak mau harus belajar itu-itu. Gak bisa nyeni banget lah. Banyak hambatannya. Walaupun saya cukup suka berpikir (maksudnya menyelesaikan soal matematika), tapi bukan berarti dengan masuk seni rupa akan meninggalkan segala eksakta tersebut. Ternyata kuliah TPB pun tidak bisa dibilang ringan alias gampang. Kebanyakan orang pasti mikir, "enak dong gambar doang", atau "gambar melulu." Aduh, kata-kata 'doang' sama 'melulu' itu yang seakan-akan jadi kesimpulan banyak anak SR bisa dapet IP 3 ke atas. Gambar cuma 2 hari doang kok. Dua hari lainnya ber-nirmana ria. Yang suka buat rada stress itu gambar konstruk sama nirmana. Okelah konstruk perlu skill. Tapi nirmana jauh lebih abstrak. Ah sudahlah cukup segini saja keluh kesahnya.

Sering kami dituntut untuk membuat sesuatu yang lebih. Beberapa kali (atau sering), senior suka bilang, "yang kayak gini anak teknik juga bisa." Pada akhirnya kita seperti terdoktrin untuk selalu membuat yang lebih wah. Tapi kalau dipikir, sebenarnya memang semuanya anak teknik juga bisa buat. Saya kurang suka karena itu seperti meremehkan.
Banyak juga yang bilang kalau anak SR sering dianggap 'berbeda'. Entahlah. Apa mungkin karena jadwal kuliah kami berbeda sehingga jarang bersua? Apa mungkin mereka selalu berharap kami dapat melakukan sesuatu yang 'lebih'?

Apa sih hubungannya dengan OSKM? Jadi, pada suatu hari, setelah kita selesai asistensi untuk pameran, datanglah beberapa 'oknum' OSKM, termasuk J*j*, senior kami. Propaganda mereka berhasil merebut hati saya dan cukup banyak anak-anak lain. Anak SR jangan cuma asik sendiri di dalem lah, kita kan juga anak ITB. Akan tetapi, ada pihak lain yang bilang juga, "ngapain sih ikut OSKM? Mending kalian bantu pasar seni." Oke, itu masuk akal juga. Tapi sepertinya saya jadi sedikit mengerti tentang arogansi angkatan ganjil dan genap.
Waktu kenalan dengan anak teknik saat diklat OSKM, banyak sekali yang tidak menyangka saya adalah anak SR. Mungkin alasan paling banyak adalah karena tidak menyangka masih ada anak SR yang ikut OSKM (mungkin juga berlaku untuk acara kampus lainnya yang pengurusnya super minim atau bahkan tidak ada anak SR-nya). Tapi di lain pihak, mereka juga senang sekali melihat ada anak SR, apalagi kalau sekelompok. Saya tau deh maksudnya apa kalau sudah begitu atau menyangkut membuat 'karya'.

Sekian saja perbincangan kita tentang OSKM dan SR. Masih banyaksebenarnya yang mau ditulis, tapi nanti gak seru lagi. Hahahahaha.


You Might Also Like

1 komentar

Search This Blog