30. Ranah 3 Warna

5:24 AM

It's a 30 days challenge to write from Fitri, so I start from number 30.


Awalnya saya hanya berniat membeli The Necromancer, buku yang sudah sangat ditunggu di sebuah tokobuku. Teman saya, sebut saja Shinta juga ikut ke Togamas untuk mendapatkan buku dengan diskon selamanya, ternyata dia juga suka serial Nicholas Flamel tersebut. Tanpa ragu ia memutuskan untuk membelinya, juga beberapa buku lain karena dia juga punya banyak uang saat itu.

Saya yang kebetulan hanya berniat membeli itu saja tidak membawa banyak uang. Apalagi ketika melihat novel lanjutan Negeri 5 Menara, yaitu Ranah 3 Warna dipajang di sebelah The Necromancer dengan harga yang lebih murah. Seperti biasa, saya yang labil bingung mengambil keputusan antara membeli keduanya atau beli salah satu saja. Setelah cukup lama menimba-nimbang (apalagi dalam kondisi menabung) saya memutuskan untuk membeli buku kedua dari A. Fuadi tersebut.

Kesan saya setelah membaca buku pertama sebenarnya tidak terlalu bagus. Memang saya akui, genre yang disuguhkan memang pas dengan selera saya, yaitu kehidupan sekolah plus asrama. Akan tetapi tampaknya tidak mendapat lebih dari dua lima-per-tujuh bintang dari review saya. Saya juga cukup heran dengan reaksi super sangat positif orang-orang yang telah membaca Negeri 5 Menara. Sejujurnya saya hanya bisa harap-harap cemas dengan buku kedua ini, berharap Shinta segera menyelesaikan The Necromancer agar bisa segera dipinjam.

Singkat cerita saya akhirnya membacanya. Tak disangka-sangka. Baru beberapa halaman awal saya sudah tertarik. Bagaimana tidak tertarik kalau yang diceritakan adalah kisah sang tokoh utama berjuang mengais bangku kosong perguruan tinggi negeri. Selanjutnya semakin menarik saja. Latar tempatnya sama dengan saat ini saya berdomisili. Wah, semakin saya membayangkan kisah tersebut seakan semakin nyata.

Sebenarnya, yang paling menggugah ini adalah perjuangan si tokoh utama yang sedang berada pada umur yang tentunya tidak beda jauh dengan saya. Bahkan bisa saja sama. Siapa yang tidak terinspirasi dengan kisah anak perantau yang kuliah di sebuah kota besar dengan impian yang lebih besar lagi, yaitu pergi ke luar negeri. Cocok pisan lah sama saya. Hahahha.

Mantra kedua, man shabara zhafira, siapa yang bersabar akan beruntung, yang dibahas di novel ini adalah kelanjutan dari man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses. Betapa dua mantra ini saja dapat membawa semangat dan usaha si tokoh utama, Alif menuju impiannya, tanah Amerika. Bagaimana saya tidak malu, dengan kondisi yang lebih baik dengan si tokoh utama, namun belum mampu bersungguh-sungguh dan bersyukur.

Sungguh, novel ini sangat mengobarkan semangat anak muda. Sepertinya saya sendiri tidak akan bosan untuk membacanya lagi demi memompa kembali semangat yang sudah kempes.


By the way, ilustrasi sampulnya bagus loh. Sangat representatif. Lebih nyambung dari pada buku pertama, yang saya kira ia berjalan-jalan ke berbagai daerah di dunia. 

Ini review buku pertama di blog ini. Selebihnya dapat dilihat di goodreads milik saya, klik saja widget-nya yang ada di sebelah kanan. 

You Might Also Like

0 komentar

Search This Blog