10. Geger dan Heboh

8:41 PM

Tiba-tiba mendapat info bahwa film impor akan berhenti penayangannya di Indonesia. Pasti yang langsung muncul di kepala adalah bagaimana nasib Harry Potter Part 2 yang baru akan ditayangkan Juli nanti. Kalau dilihat dari berbagai status twitter dan facebook, film yang langsung disebut adalah bagian kedua yang juga merupakan akhir dari bisnis franchise panjang film penyihir berkacamata bundar ini. Pendeknya, semua orang mempersalahkan dan menyesali keputusan tersebut.

Pertama kali tahu dari link ke kaskus yang dipajang teman. Awalnya tidak percaya, tapi begitu lihat menu 'coming soon'nya 21cineplex, ditambah ternyata masuk koran juga, mau tidak mau memang harus menerima keputusan. Sungguh berat rasanya.

Selama ini kalau ke bioskop memang jarang sekali menonton film indonesia. Apalagi sih, yang ditawarkan selain film porno berbalut horor murahan. Atau kisah romansa murahan yang pasti endingnya sudah dapat ditebak sejak melihat posternya. Mungkin ada juga beberapa film yang cukup serius dibuat dan genre-nya bukan yang sudah disebutkan tadi di atas, tapi mana ada film aksi dengan efek canggihnya? Bahkan kacamata 3d sepertinya akan kembali ke kotak penyimpanannya dan dikunci rapat-rapat. Kalau tidak ada film impor, bioskop juga akan sepi. Berapa banyak sih orang yang memang berniat dan menggemari film indonesia yang dibuat asal-asalan tersebut?

Keputusan ini sungguh membawa efek besar bagi sosial. Bayangkan saja, ada berapa banyak bioskop XXI dan 21, Blitz, juga bioskop-bioskop lokal lainnya yang pendapatannya sangat bergantung pada film impor yang jumlah penayangannya masih lebih banyak dari pada film lokal. Kalau pendapatan menurun, pasti jumlah karyawannya juga bisa dikurangi, dong. Apa kabar juga majalah-majalah yang kebanyakan mengulas film luar negeri? Kalau dipikir lagi, pihak mana sih yang merasa gembira? Bahkan karena tidak masuknya film impor tersebut juga berarti mengurangi jumlah pajak negara. Mau ditampung ke mana hasrat menikmati suguhan visual dengan berbagai efek mengagumkan tersebut?

Nah, kalau begini, kita yang menyebut diri kita sebagai penikmat sinema layar lebar, apa yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan 'kebebasan memperoleh informasi'? Hm, mungkin akan kembali mengunjungi lapak-lapak dvd bajakan yang bisa saja malah menjadi pekerjaan yang menjanjikan setelah adanya keputusan ini. Atau kembali ke versi murah, yaitu mengunduh dari internet. Kalau begini, yang ada malah semakin menyuburkan kegiatan ilegal yang sejatinya harus diberangus. Tapi, saya tetap tidak mau menunggu lama untuk mengunduh Harry Potter yang versi DVDrip-nya muncul beberapa bulan setelah filmnya rilis. Yang lain juga tidak mau kan?

You Might Also Like

1 komentar

  1. ih sedih ya.. padahal harpott kan tinggal episode terakhir..
    padahal film2 Indonesia kan banyak yang di puter ulang di TV. malah kebanyakan org lebih suka nonton film lokal di TV drpd di bioskop.
    mulai kapan nih di berlakukan kebijakan film impor akan berhenti penayangannya di Indonesia?

    ReplyDelete

Search This Blog