20. Rokok

10:58 AM

Sering, kan, melihat orang merokok? Di jalan, dalam angkot, mall, restoran, wc umum, terminal, taksi, mobil, kampus, bahkan bisa saja di rumah sendiri. Benda sepanjang 9 cm ini tentu tak lepas dari sekeliling kita. Mulai dari balita, anak SD ingusan, sampai kakek-kakek yang semakin ingin mempercepat kematiannya, asyik sekali menghisap dan menebarkan racun ke lingkungan sekitar.

Bagi yang membenci rokok, apalagi yang alergi, pasti sangat sebal melihat orang merokok di dekatnya. Apalagi ketika asapnya berhembus ke arahnya. Oke, begitulah yang terjadi juga pada saya.

Orang yang merokok secara sadar telah meracuni dia sendiri dan orang lain. Anehnya ia tak merasa berdosa sedang membunuh pelan-pelan. Hm, sepertinya hukum juga tidak bisa menjerat pembunuhan berencana ini. Lha wong yang duduk dan merumuskan undang-undang juga menyelipkan sebatang ke bibirnya ketika memutuskan. Apalagi alat pembunuhannya dijual bebas dan perusahaannya selalu menjadi sponsor kegiatan olahraga.


Banyak sekali bapak-bapak yang lebih memilih untuk merokok dari pada makan. Katanya harganya lebih murah. Semiskin apa pun, mereka lebih memilih mejadi budak rokok. Padahal kalau dihitung, dalam sebulan saja uang yang dihabiskan untuk merokok dapat digunakan untuk membeli sekedar buku pelajaran anaknya, atau mungkin biaya untuk menaikkan taraf kesejahteraan keluarganya yang hanya bisa sabar melihat uang dibakar.

Sebenarnya saya juga masih suka merasa tidak enak ketika menegur orang yang merokok. Apalagi kalau orang itu masih dalam ikatan keluarga atau saudara. Rasanya kurang sopan mengganggu kesempatan Pakde, misalnya memasukkan zat merusak itu.

Akan tetapi sebenarnya tiada salahnya kita mencoba. Terkadang mereka merasa nyaman saja merokok di depan ibu hamil dan anak kecil karena tidak diprotes. Sehingga mereka menganggap dipersilakan untuk meracuni dan membakar uang. Berpura-pura batuk dan menutup hidung zaman sekarang sudah tidak ampuh untuk orang yang mata hatinya telah dibutakan oleh asap. Harus langsung bilang. Tetap sopan juga supaya tidak tersinggung. Jangan bilang "Pak, bisa dimatikan gak rokoknya? Asapnya membunuh kita, Pak." Pasti si perokok sudah punya segudang alasan untuk mengelak. Kalau bilang baik-baik, semoga dia mengerti. Jangan lupa didoakan agar dia cepat sadar dan berhenti.

You Might Also Like

0 komentar

Search This Blog