Pungutan Liar

9:42 PM

Sejak dulu saya sering sekali memperhatikan adanya pungutan liar yang dilakukan oleh berbagai oknum. Yang paling sering saya lihat adalah pemandangan ketika angkot yang melewati suatu jalan diharuskan membayar seribu hingga sekitar dua ribu rupiah kepada seseorang yang membawa catatan sambil meberi tanda centang untuk setiap nomor angkot yang sudah membayar. Orang yang memungut bayaran itu tidaklah berseragam maupun memberikan tanda bukti pembayaran seperti bukti retribusi. Umumnya orang itu sambil merokok, juga memakai tas pinggang, beserta segepok uang receh seribuan. Ada juga yang memakai seragam resmi. Hm, mungkin itu memang resmi ya, saya juga kurang tahu. 


Ada juga akhir-akhir ini ibu-ibu yang mengeluhkan pungutan yang mengatasnamakan institusi pendidikan. Walaupun anggaran pendidikan sudah dinaikkan, namun sepertinya tidak pernah ada kata cukup. Sungguh kasihan nasib orang-orang yang tidak memiliki uang lebih demi membayar hal yang seharus memang sudah menjadi hak mereka. 

Nah, yang ini saya alami sendiri. Memang sih, lokasi Gasibu di Bandung bukanlah hal yang legal, karena konon katanya sudah ada peraturan mengenai larangan tersebut. Akan tetapi, ketika berjualan di sana, saya dan teman-teman beberapa kali diminta uang oleh orang-orang tak berseragam dan tak memberi kertas bukti retribusi. Hanya ada satu yang ada buktinya, yaitu retribusi untuk kebersihan yang besarnya tujuh ratus rupiah. Mamang yang menagih meminta seribu rupiah. Bayangkan, apabila tiap lapak memberi seribu, maka total ada berapa banyak tiga ratus rupiah yang masuk ke kantongnya? 

Selain itu, masih ada beberapa orang yang hilir mudik menagih, dan ketika ditanya jawabannya adalah: "Memang biasanya bayar segitu." Dan yang jenis ini adalah orang dengan usia masih produktif, sekitar tiga puluh tahun an mungkin ya. Dan lagi-lagi biasanya sambil merokok. Total pungutan yang dibebankan untuk penjual bisa mencapai sekitar lima ribu rupiah. Katanya kalau makin semakin jauh dari bagian tengah pasar Gasibu maka pungutan juga akan lebih murah. 

Pengalaman yang paling mengganggu adalah ketika saya dan teman-teman berjualan di lapak yang berbeda. Bahkan di bagian itu lebih sepi dari pada tempat kami berjualan sebelumnya. Namun, muncul seseorang (belakangan diketahui dia adalah seorang penjual tahu di Cibiru oleh teman saya http://twitpic.com/5rladi) meminta sejumlah uang dengan jumlah yang sangat tidak wajar. Coba tebak berapa? Sepuluh ribu? Salah. Yang benar adalah LIMA BELAS RIBU. Sungguh tidak kira-kira. Dengan penampilan usia sangat produktif, sekitar dua puluhan, dan celana model merosot yang boxernya kelihatan, dan juga ia datang bersama seorang bapak bertampang cukup sangar dan berbadan sedikit menggumpal. Dari berbagai pertanyaan yang kami ajukan ("pungutan liar ya pak?" "ada bukti pembayarannya gak pak?" hah, masa lima beras ribu? biasanya kan seribu dua ribu.") tidak ada satu pun yang bisa ia jawab. Kami juga khawatir sebenarnya kalau mereka menggunakan cara kotor untuk membalas apabila kami tidak membayar. Apalagi setelah ia mengemukakan alasan yang tidak wajar dibalik permintaannya. "Yang di sebelah sini biasanya untuk parkir. Jadi harus bayar segitu.Nanti tidak perlu bayar-bayar lagi." Padahal sungguh, sejak kapan daerah itu dijadikan tempat parkir legal? Bahkan dibuat jalur biru khusus sepeda. Mana mungkin itu adalah sebuah tempat parkir mobil? Segila-gilanya harga parkir mungkin di pusat perbelanjaan di mana mobil itu diparkir lama dan memang tarifnya mahal dan memang dijaga oleh pihak yang bertanggungjawab. Lha, yang ini apa? Bahkan tidak terlihat adanya penjagaan sama sekali. Siapa sih orang yang mau dijaga keamanannya oleh orang-orang seperti mereka? Eh malah setelah itu masih ada orang yang menagih biaya kebersihan. Tentu saja kami tidak mau, dan bilang tadi sudah bayar lima belas ribu. 

Yang sangat saya pikirkan adalah ke mana uang itu sesungguhnya mengalir? Sudah pasti ada oknum pemerintah yang ikut terlibat, karena tidak mungkin Gasibu masih bertahan hingga saat ini, hingga ke depan rumah warga, hingga mengambil badan jalan, hingga menyebabkan macet dan hingga tidak adanya penggusuran atau lokalisasi legal. Enak saja, mereka hanya pasang badan dan tampang, berjalan ke sana kemari dengan pongah sambil menagih uang ke setiap lapak, sudah bisa mendapat uang segepok yang pastinya dihabiskan untuk merekok dan disetorkan untuk orang yang lebih di atas. Sementara itu yang berjualan harus berjuang demi mendapat uang. Belum lagi realita lapak permanen yang pasti ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan. Memangnya itu tanah mereka hah? Pemerintah tolonglah berhenti korupsi. Masih ada permasalahan, contohnya di Gasibu ini. Saya lebih memilih lokalisasi legal dibandingkan harus memberi uang kepada orang tidak jelas seperti itu. Eh, sama saja sih sepertinya. Kalau dengar cerita orang-orang juga kalau berjualan di dalam pasar atau sebagainya (kalau pusat perbelanjaan besar seperti mall mungkin tidak ada ya) tetap saja masih ada 'uang keamanan' yang harus dibayarkan ke orang yang lagi-lagi tak bertanggungjawab. Mungkin buka toko online saja kali yaa.

Masih ada lagi cerita mengenai pungutan yang sepertinya semua orang juga tahu, yang sering dilakukan oleh orang-orang berseragam resmi. Contohnya saja, teman saya yang ingin mengurus motor yang ditahan di kantor polisi akibat kecelakaan masih susah mengurusnya, padahal sudah membayar sejumlah uang. Karena sering mendengar cerita semacam itu, saya jadi sering menjustifikasi mereka, eh mungkin hampir semua orang berseragam yang bekerja di pemerintahan sebagai oknum. Memang tidak seluruhnya bejat, namun apabila yang banyak diceritakan dan dialami adalah yang perbuatan buruk yang dilakukan sekelompok orang, bukanlah tidak mungkin pada akhirnya tingkat kepercaan masyarakat terhadap bangsanya sendiri akan semakin menipis.

You Might Also Like

1 komentar

  1. memang menyebalkan di lingkungan kita itu, pungli dimana-mana..

    ReplyDelete

Search This Blog