Taman Mini (duh sedihnya)

10:42 AM

Siap-siap untuk sebuah posting yang sangat panjang.

Taman Mini Indonesia Indah yang terletak di Jakarta Timur boleh dibilang cukup dekat dari rumah saya. Apalagi jika dibandingkan dengan Ancol. Harga masuknya pun lebih terjangkau, sehingga saya dan dua orang teman saya, Kartika dan Kokot, memutuskan untuk pergi ke sana untuk mengisi liburan.

Tanpa bekal (itu sih si Kartika ama Kokot, saya bawa makan siang, karena sudah tahu harga di sana pasti selangit), dan tanpa perencanaan matang, kami akhirnya tiba di Pintu Utama TMII. Disambut dengan megah dan indahnya pintu gerbang, kami harus bayar tiket masuk sebesar Rp 9000 per orang. Dikasih juga peta TMII yang sayangnya jauh dari menarik, dan harga yang dicantumkan semuanya mengandung kata "rata-rata". Misalnya, Museum Indonesia, rata-rata Rp 5000. Hehehe, ngerti kan?

sumber: ini

Ketika kami berjalan, di samping jalan ada spanduk dan baliho besar tentang balon udara raksasa. Di situ tertulis sudah mulai beroperasi mulai tanggal 23 Desember 2011. Ditambah lagi ada promosi beli tiket satu dapat gratis satu. Wah, kebetulan sekali. Kami memutuskan harus menaiki yang satu ini.

Selanjutnya, kami berjalan menuju stasiun chairlift yang ada disebelah kiri. Tiba-tiba, langkah kami terhenti karena dipanggil oleh bapak satpam. Ia menawarkan penyewaan motor seharga Rp 30.000 per jam, penyewaan sepeda juga Rp 30.000, sedangkan mobil Rp 60.000 (kalau tidak salah) per jam. Sayangnya di antara kami bertiga tidak ada yang bisa naik motor, dan pilihan kami jatuh pada naik mobil keliling dengan harga Rp 3000 per orang.

Mobil yang berbentuk seperti mobil patrolinya si polisi ini berbentuk bak terbuka dengan atap dan tiga baris kursi di belakangnya. Tiap baris ada tiga kursi. Walaupun sedang musim liburan, namun jumlah pengunjung tidak terlalu banyak. Berbeda sekali dengan laporan jumlah pengunjung ketika malam tahun baru lalu.

Setelah mobil tiba untuk ketiga kalinya, kami akhirnya bisa naik. Mobil berjalan lambat dan kami menikmati pemandangan sekitar. Lalu kami turun di dekat pintu masuk Taman Bunga Keong Mas, tempat si Balon Udara Raksasa. Dari depan, benar-benar tidak tampak tanda-tanda adanya balon sama sekali. Bahkan tidak ada poster, baliho, atau spanduk tentang itu. Kami harus bertanya ke ibu penjaga loket tiket, dan katanya ada di belakang sana.

Taman Bunga Keong Mas sayang sekali tidak seperti yang dibayangkan. Apabila dibandingkan dengan Taman Bunga Nusantara, sungguh jauh sekali. Yang ini hanya seperti taman biasa, tanpa lautan bunga. Hanya dihiasi beberapa patung tua, ada beberapa mainan anak seperti ayunan, juga beberapa air mancur yang menyedihkan. Sepi sekali.

Akhirnya sampai juga kami di tempat balon udara. Anehnya, di spanduk yang dipajang di situ, tanggal mulai beroperasinya dicoret. Tempatnya juga masih sepi dan tidak ada tanda-tanda sedang beroperasi. Kami akhirnya menuju kios loket dan bertanya ke mbak penjaga. Katanya, operasionalnya diundur menjadi 31 Januari. Bahkan dia memberi kami selembar surat dan katanya tolong nanti hubungi kira-kira ingin ke sana tanggal berapa. Katanya ini terkait dengan masa perpanjangan operasionalnya. Sekarang masih dalam tahap percobaan, karena harus berkoordinasi dengan BMKG, pihak bandara Halim, dan sebagainya, karena nantinya balon ini akan terbang hingga ketinggian 150 meter. Aduh, lagi-lagi sedih, karena kuliah kami sudah mulai masuk pada tanggal 24 Januari 2012.

Hari biasa: harga tiket dewasa Rp 90.000, sedangkan anak-anak Rp 60.000.
Hari libur: harga tiket dewasa Rp 120.000, anak-anak Rp 90.000.

Lokasi balon udara dari taman bunga.

Ini Kokot di depan pagar pembatas si balon udara.

Puas menikmati balon dari jauh, hahaha, kami istirahat makan siang dulu. Lalu berjalan-jalan di anjungan daerah sekitar itu. Sebelum pulang, kami berhenti dulu di sebuah bangunan yang ternyata adalah Sasana Kriya.


Bangunan Sasana Kriya tampak tidak terlalu terawat. Banyak cat mengelupas di sana sini dari pintu masuk sebelah belakang. Lagi-lagi kesan yang ditimbulkan adalah sepi, tidak laku, dan menyedihkan. Bagian dalamnya juga tidak jauh menyedihkan. Ada beberapa eskalator, tapi mati. Toko-toko yang buka juga tampak menyedihkan tanpa pelanggan dan harga jual yang dibuat semurah mungkin. Display toko yang berada di samping-samping masih sangat sederhana sehingga tidak menarik. Kalau display yang ada di tengah masih lebih mending, karena dibuat seperti sebuah saung bambu dengan kerajinan yang cukup menarik. 

Ada topi-topi koboy seharga Rp 25.000. Murah bukan? Sayangnya, material yang dipilih untuk lining atau bagian dalamnya adalah kain yang biasa dipakai untuk tas promosi itu loh, bahan spunbound. Ada juga topi dari anyaman pandan. 

Berbagai dompet kulit juga dijual murah (mungkin kulit imitasi, sayang kurang tahu karena harganya murah), namun sayang finishingnya kurang sekali. Liningnya masih memakan spunbound dan desain yang terlalu sederhana membuatnya tidak menarik dan murahan. Ada pula tas anyaman pandan yang dikombinasikan dengan kulit imitasi (ada beberapa tas yang tampak oke, sedangkan beberapa tas lainnya masih tampak norak). Ada juga tas tangan dari anyaman rotan khas kalimantan, ada juga yang dari anyaman lainnya yang berwarna ngejreng. Tas rajutan tangan juga dijual, dengan motif bunga yang paling banyak. Tas batik juga ada di sini.

Ada berbagai kerajinan bambu, seperti gantungan angin bambu dengan harga mulai dari Rp 20.000, kerai bambu berbagai ukuran, angklung, kap lampu, bulpen bambu yang disolder membentuk nama, gantungan bambu, suling, dan lain sebagainya.

Ada kerajinan rotan, mulai dari furniture, tas, juga lampit. Furniture yang dipajang tampak terlantar dan lagi-lagi tidak terlalu istimewa. Mulai dari kursi makan, meja, masih ada beberapa jenis lagi, tapi saya kurang memperhatikan secara seksama, karena ada yang lokasinya di pinggir dan gelap. 

Kerajinan dari kayu juga banyak. Ada mainan yoyo murah seharga Rp 3.000 dan Rp 5.000. Ada juga pajangan berbagai bentuk, seperti mobil, congklak, ulekan bulat untuk rujak bebeg katanya. Tersedia pula alat bantu memijat, penggaruk punggung, juga sandal pijat mulai Rp 20.000. 

Tikar dai mendong khas Tasik juga ada. Tempat baju kotor juga ada. Ada pula table runner dari tenunan bahan alam sepertinya, yang harganya super murah cuma Rp 5.000, dan memang ternyata itu produk yang sudah terlalu lama dipajang sehingga bagian lipatannya menimbulkan bekas warna kecoklatan.

Berbagai produk fashion juga tersedia. Kain bali, baju barong seharga Rp 35.000, berbagai macam produk batik, pashmina, sepatu, tersedia di sini. Baju biasa yang diobral juga ada. 

Untuk wisatawan asing atau lokal, tempat ini sungguh sangat cocok untuk membeli oleh-oleh. Tidak perlu berkunjung ke setiap lokasi aslinya yang tersebar jauh di seluruh Indonesia. Sebenarnya bisa juga membeli suvenir yang dijual di setiap anjungan daerah, akan tetapi bagi yang ingin menghemat waktu dan memiliki pilihan yang lebih luas, Sasana Kriya bisa dijadikan alternatif. 

Pihak manajemen TMII seharusnya dapat memanfaatkan berbagai potensi yang sudah dimiliki sehingga dapat menarik lebih banyak wisatawan. Keterpurukan ini dapat dilihat dari jumlah pengunjung yang sedikit, harga tiket masuk museum yang terlampau murah, perawatan yang kurang, dan inovasi yang tidak banyak. Promosi pun harus lebih gencar dilakukan, minimal membuat iklan di televisi. Mungkin wahana yang paling ramai di TMII hanya Snowbay, Museum PPIPTEK, Museum Air Tawar, dan beberapa tempat lainnya. Sisanya sepi sekali.... Sedih sekali saya melihat orang yang membuka toko suvenir atau rumah makan di wahana atau anjungan yang sepi. Bagaimana bisa memiliki pembeli ketika pengunjung yang datang juga hanya sedikit. Bagaimana bisa mereka hidup sejahtera kalau seperti itu? Ketika mereka merugi dan pindah dari tempat itu, akan muncul pedagang lainnya yang akan terus merugi, dan akan tercipta rantai kerugian. 

Sebagai penutup, mari kita lebih menghargai produk buatan Indonesia. Kalau ke temapt wisata, jangan lupa membeli suvenir, apalagi kalau tempat wiasatanya sepi. Hehehe.

Happy Holiday!

You Might Also Like

0 komentar

Search This Blog