Alhamdulillah akhirnya sampai juga!

5:00 AM

Mari kita urut kejadiannya dari awal.

Pertama sekali, saya dan Deasty mencari tiket paling murah ke Osaka. Ujung-ujungnya, kami memutuskan naik airasia yang sedang promo dengan bagasi 20 kg. Saat itu saya asumsikan akan cukup, karena masih bisa membawa tas untuk di kabin seberat 7 kg. Tiket sudah terbeli, dan akhirnya hari keberangkatan tiba. Kami masih disibukkan dengan acara packing super dahsyat. Ternyata oh ternyata, ketika koper sudah 20kg, tas laptop sudah dijejali berbagai barang berat seperti kornet dan lem fox, tas koper kecil di kabin pun hampir mencapai 10 kg. Tidak jauh berbeda, Deasty pun mengirim sms, katanya bahkan koper kabin dia sudah mencapai 11 kg, padahal rendang yang mau dibawa belum dimasukkan.

Siang itu, saya galau super. Sebelumnya, saya sudah bertanya-tanya ke teman-teman yang pernah naik airasia, katanya kalau koper kabin tidak akan ditimbang, yang penting muat ukurannya masuk kabin. Saya menjadi lebih lega. Akan tetapi sepertinya harus dilakukan tindakan lebih lanjut. Akhirnya saya memutuskan untuk meningkatkan kapasitas bagasi kami menjadi 25 kg. Alasannya, kalau dinaikkan menjadi 30 kg, kami harus menambah biaya 190 ribu rupiah per orang, sedangkan kalau 5 kg hanya perlu menambah 80 ribu rupiah. Sip, akhirnya di jam-jam sebelum keberangkatan ke bandara, saya mengatur ulang packing koper raksasa yang menjadi lebih berat dari berat badan adik saya yang paling kecil.

Setelah bayak adegan pamitan dan foto-foto di bandara terminal 3, akhirnya kami berangkat. Ternyata oh ternyata, bawaan kami sangat banyak dan berat. Dengan memakai airasia, harusnya kami harus bisa menerima resiko harus berjalan jauh menyeret koper kabin sambil menggendong tas laptop di LCCT menuju tempat transit. Berhubung memakai airasia, kalau mau makan dan minum harus rela mengeluarkan uang tambahan. Sebelumnya, saya hanya memesan makanan sarapan untuk nanti di pesawat menuju Osaka. Oleh karena itu, setelah menyeret koper super jauh, saya menukar 2 dolar singapura dengan beberapa ringgit untuk membeli air mineral.

Tanpa menunggu lama, kami harus langsung mengantre dan berjalan lagi ke pesawat yang akan membawa kami ke Osaka. Bersama dua orang ibu temannya ibu, kami melakukan perjalan bersama sampai KIX. Singkat cerita, begitu sampai di KIX, kami bertemu anak UGM dan anak ITB yang akan exchange ke Nagoya setahun juga. Ada juga ibu-ibu yang kerja di restoran ala Indonesia, tapi sepertinya rada jauh. Kami akhirnya berpisah dengan dua orang ibu temannya ibu yang sudah dijemput dan akan pergi menuju Kobe. Nah, dengan banyak barang bawaan, kami mulai galau.

Kami bertemu dengan seorang mbak yang menunggu ibunya datang. Dia sudah mau lulus, kulah S3 di Hiroshima Daigaku. Setelah bertanya-tanya, akhirnya kami memutuskan naik bus, lalu sekali naik monorail, dan akhirnya naik taksi. Kalau dibayangkan, segalanya tampak mudah. Untung ada elevator di setiap stasiun.  Akan tetapi, kesulitan paling besar adalah menyeret koper 25 kg dan menyeret koper kabin. Alhamdulillah, urusan membeli tiket monorail dibantu mbak petugas, karena si mesin penjual tiket tidak ada versi english nya.

Ketika sudah tiba di stasiun Yamada, kami hanya tinggal berjalan ke tempat taksi. Tiba-tiba...... Jempolnya Deasty berdarah karena terlalu lelah menyeret koper 25 kg nya yang pegangannya tidak ergonomis. Padahal kita sudah sampai di tempat naik taksi. Untungnya di dekat situ ada drug store, jadi dia langsung beli hansaplast, eh band-aid. Saya menunggu lama sambil memperhatikan sekitar, banyak ibu-ibu membawa anak, nenek-nenek, kakek-kakek, dan segerombolan ibu-ibu seperti pulang arisan.

Yak, akhirnya Deasty datang, dan kita langsung naik taksi yang sekali buka pintu sudah 660 yen. Supirnya sudah cukup tua, tidak bisa berbahasa inggris, dan kami merasa sedikit kasihan beliau harus mengangkat koper-koper nan berat ke bagasi. Di dalam taksi kami diberi dua bungkus tisu kecil. Tak berapa lama, kami akhirnya tiba di dorm! Saking dekatnya, argonya masih 660 yen. Dari pada harus menyeret koper lagi jalan kaki 15 menit, ya mendingan naik taksi kan.

bersambung...
to be continued...
つづく

eh btw, foto-foto ada di Deasty, berhubung saya mager mengeluarkan kamera.

You Might Also Like

0 komentar

Search This Blog