Jepang 24 Jam?

5:02 AM

Sewaktu SMA dulu, saya pernah pulang menggunakan angkot pada pukul 1 pagi. Angkot, beberapa metromini, juga ojek selalu ada setiap saat, walaupun pastinya ketika lewat tengah malam akan menjadi lebih sedikit jumlahnya. Selain itu, sebagai penumpang juga harus lebih hati-hati dan waspada karena sering ada kasus kriminal di angkutan umum pada malam hari. Bepergian di "pagi" hari juga masih memungkinkan, karena bahkan ojek langganan dan taksi bisa dipesan sejak sebelum subuh. Lebih ekstremnya lagi, ojek langganan bisa dipesan kapan saja, walaupun jam 3 pagi. Benar-benar praktis, bukan?

Sementara itu, kehidupan tidak selalu 24 jam di Jepang, juga Korea Selatan. Angkutan umum seperti kereta dan bus memiliki jam malam. Parahnya lagi, bahkan sebenarnya mesin ATM di Jepang tidak 24 jam, kecuali mesin ATM yang ada di konbini yang mengenakan biaya tambahan setiap kali menarik uang.

Pengalaman pertama, adalah ketika pulang dari Hokkaido menggunakan LCC yang murah. Konsekuensinya, pesawat tiba hampir menuju tengah malam, dan kami hanya bisa menggunakan kereta terakhir menuju stasiun Namba. Setelah kami tiba di sana, stasiun subway sudah ditutup, bahkan ada petugas yang mengusir orang-orang yang masih ada di dalam stasiun. Kereta pertama dari Namba sekitar pukul 5 pagi, dan berarti kami harus menunggu sekitar 4,5 jam. Pilihan pertama, yaitu mencari hotel, tentu sangat tidak ramah kantong. Pilihan berikutnya adalah menggunakan taksi, tapi setelah mendengar cerita orang, walaupun kami berlima, tapi masih saja mahal (ingat, taksi di sini tarif buka pintu adalah sekitar 660 yen). Saya pun tak yakin apakah lima orang boleh masuk dalam satu taksi. Pilihan berikutnya adalah mencari karaoke, yang pastinya akan menghabiskan sekitar 700 yen. Saat itu saya sudah tidak punya uang banyak, dan tempat karaoke entah ada di sebelah mana. Malam itu kemampuan navigasi saya menghilang.

sumber: sini
Kami berlima berpisah jalan, menjadi rombongan saya, Deasty, dan Mba Tri, lalu rombongan ke dua adalah Pi dan Miki. Saya dan rombongan mencari McD terdekat, yang berhasil kami temui, dan ada stiker "24" jam. Sayangnya, setelah ditanya, ternyata bagian atas McD yang ada area makannya hanya dibuka hingga pukul 2 pagi. Setelah jam itu, akan ditutup dan pelanggan yang ingin makan harus membawa pulang atau makan di bawah ditemani dinginnya hawa musim dingin. Tapi, akhirnya kami ke atas, duduk-duduk, solat, lalu tidur. Jangan harap ada wi-fi gratis di sini. Ternyata ada banyak orang yang sepertinya juga tertinggal kereta dan tertidur. Beberapa ada yang membaca dan mengobrol. Pada pukul dua, lagu "pengusiran" sudah diputar, tapi belum ada petugas yang mengusir. Pelanggan lain juga belum keluar semua, sehingga kam memutuskan untuk terus menunggu di dalam. Lagi enak-enaknya tidur, sekitar pukul 3 petugas datang dan mengusir orang yang masih ada di dalam.

Bagaikan pengungsi yang terusir, kami pun pergi menuju McD tempat Miki dan Pi berada, yang katanya "24" jam juga. Saat itu, kondisi sekitar sudah sangat sangat sepi, lebih sepi dari pada ketika kami baru saja tiba di Namba. Di McD yang tak begitu jauh dari tempat kami sebelumnya, ada beberapa orang juga yang tidur, bahkan terang-terangan berselonjor di kursi yang panjang. Di sana, ternyata tak lama kemudian, kami pun terusir dari area makan yang ada di bawah tanah itu. Kami akhirnya ke atas, dan melanjutkan tidur. Tak lama kemudian, kami dibangunkan satu persatu oleh sang manajer. Hanya Mba Tri yang tidak tidur. Miki sepertinya mengantuk sekali, hingga akhirnya ia diusir karena ngotot ingin tetap melanjutkan tidur. Ternyata, apabila ingin terus berada di sana dan duduk di dalam, harus dalam keadaan terjaga, meskipun sepertnya tidak harus membeli makanan. Singkat kata, kami pun "terusir" dari McD itu dan kami akhirnya berjalan pelan menuju stasiun karena saat itu sudah pukul setengah lima pagi.

Sesampainya di stasiun, ternyata masih belum buka. Suhu sepertinya sudah mencapai titik terdingin. Kami akhirnya duduk-duduk, dan beberapa bapak-bapak gelandangan juga mulai berdatangan. Setelah mengobrol beberapa lama, akhirnya gerbang stasiun dibuka, eskalator mulai menyala, akan tetapi mesin tiket belum bisa digunakan. Satu per satu orang-orang dengan pakaian rapi siap bekerja pun berdatangan. Kami semua sudah merasa sangat lelah dan tak sabar duduk di dalam kereta. Dasar, kami semua ingin mencari cara paling murah, dan malah berakhir seperti itu. Tak lama kemudian, mesin tiket menyala, dan gerbang tiket pun terbuka. Akhirnya.......... Kami bisa pulang.

Walaupun sebelumnya kami baru saja dari Hokkaido yang dingin dan bersalju, ternyata Osaka jauh lebih dingin karena malam itu kami benar-benar menjadi "gelandangan". Setelah dipikir-pikir lagi, menjadi gelandangan alias "homeless" di sini sangatlah berat, karena harus sanggup bertahan di musim dingin yang suka mencapai titik minus di pagi hari, di Osaka ini.

You Might Also Like

0 komentar

Search This Blog