Tips Makan Halal dan Hemat di Jepang

6:52 PM

Sebelum saya datang ke Jepang, saya sempat berpikir, apakah saya tidak akan makan daging selama setahun? Selain itu, saya juga berpikir bahwa makanan yang bisa dimakan akan sangat terbatas. Ternyata, tidak demikian, saudara. Masalah makan-minum dan memenuhi lambung sebagai sumber tenaga sebenarnya tidak sulit. Walaupun begitu, masalah ini tidak bisa dipandang sebelah mata.

Sebelum saya berangkat ke Jepang, beberapa orang teman saya bercerita bahwa tidak sulit untuk makan di luar negeri. Tinggal baca basmalah sebelum makan, maka simsalabim, daging ayam, kambing, atau sapi (selain babi) akan menjadi halal dan bisa dimakan. Tapi rasanya hal tersebut cukup aneh, menurut saya. Berdasarkan Al-Quran yang saya baca, ada ayat seperti ini:


“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya (yaitu dengan menyebut nama selain Allah). Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya seitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. (QS al-An‘am [6]: 121).

Selain itu pula, saya selalu ingat dengan ibu, yaitu ketika sedang berada di Eropa, makanan yang beliau cari adalah yang berlogo halal, dan kebanyakan adalah kebab. Memang sih, kebab sangat pasaran di Eropa, karena ada banyak orang Turki di sana. Bagaimana dengan Jepang?

Sebagai mahasiswa dengan beasiswa yang "cukup", tentu harus bisa jago mengatur keuangan, terutama masalah makanan. Pertama, tentu harus edible alias halal. Sudah disebutkan tadi, daging yang beredar di pasaran Jepang tentu tidak disembelih oleh orang Islam. Orang Jepang malah kebanyakan tidak religius atau beragama (walaupun banyak yang mengaku penganut Buddha). Kalau dipikir-pikir, orang yang vegetarian saja mampu tidak makan daging, kalau begitu kenapa saya tidak bisa menahan hawa nafsu untuk makan daging setiap saat? Selain itu juga, di Jepang ada banyak sekali ikan dan ragam seafood yang bisa dimakan. Salmon yang biasanya mahal di tanah air, di sini harganya sama dengan ikan lainnya, alias bukan ikan kelas mahal. 

Tips halal dan hemat:

1. Masak
Walaupun harga beras mahal, tapi lauk dan sayur yang dimasak lebih "aman" dan lebih murah. Banyak masakan Jepang yang mengandung mirin dan sake yang tentunya beralkohol, sehingga tidak bisa dimakan. Selain itu, dengan memasak, kemampuan meramu dan meracik akan semakin meningkat. Siapa tahu begitu pulang ke tanah air bisa membuka restoran. 

2. Beli daging halal 
Daging ayam, sapi, domba, dan lain sebagainya banyak tersedia di toko bahan makanan halal, yang biasanya ada di sekitar masjid. Selain itu, bisa dibeli juga secara online. Salah satu website yang pernah saya gunakan adalah http://baticrom.com/. Sosis halal juga tersedia.

ada label "halal" di bagian kanan bawah kemasan

3. Beli makanan halal di kantin kampus
Saat ini sudah banyak kantin di kampus Jepang menyediakan menu halal demi memenuhi kebutuhan banyak pelajar muslim. Contohnya, di kampus saya ada menu "Halal Karaage". Selain itu, harga makanan di kantin kampus sudah pasti jauh lebih murah dibandingkan restoran. 

4. Makan makanan Jepang
Sebenarnya ini tidak murah, tapi bisa menjadi selingan. Nah, ini tidak bisa sembarangan. Tetapi, yang awam dianggap bisa dimakan adalah udon dan soba yang kuahnya memakai dashi atau kaldu ikan dan rumput laut. Beda dengan ramen yang memakai kuah kaldu. Selain itu, masih ada juga sushi, sashimi, takoyaki, okonomiyaki (pilih yang seafood), misoshiru, tempura (hati-hati, biasanya kuah celupannya ada sake), dan sepertinya masih ada banyak yang saya juga kurang tahu. Oh iya, kecap jepang alias shoyu juga tidak semua bisa dimakan, karena ada yang mengandung alkohol.

gambar dari sini


5. Makan makanan India
Banyak restoran India yang halal dan menyediakan daging halal. Selain enak "berasa" (kebanyakan makanan jepang sebenarnya tidak terlalu "berasa"), mereka juga punya banyak menu vegetarian. Sebenarnya ini juga tidak terlalu murah. Selain restoran India, bisa juga dicoba restoran Turki karena ada banyak yang diklaim halal.

6. Belanja di supermarket di malam hari
Banyak supermarket yang menyunat harga makanan jadi hingga 50% di malam hari. Jam diskon dimulai berbeda-beda di setiap supermarket. Terkadang, saya harus mampu mengalahkan ojiisan dan obaasan (kakek nenek) yang sangat semangat memperoleh benda murah. Contohnya, sepuluh potong sushi bisa diperoleh mulai harga 200 yen. Daging ikan dan semacamnya juga suka didiskon.

7. Makan di restoran saat jam makan siang
Biasanya mereka menyediakan lunch set dengan harga lebih murah dibanding harga menu biasa, atau harga menu khusus makan malam. Tapi jangan langsung senang, karena sekali lagi, tidak semua makanan bisa dimakan. Harus sabar....

Hal yang paling penting: jangan terus-terusan meng-convert harga dari yen ke rupiah. Bisa dongkol. Oh iya, selain itu ada juga daftar bahan makanan yang tidak bisa dimakan, dan harus jeli memperhatikan komposisi ketika berbelanja.


ショーテニング = Shortening (ada yang dari tumbuhan atau hewan)
動物ショーテニング = shortening hewan
ビーフエキス = ekstrak sapi
鳥イキス/ チキンエキス = ekstrak ayam
豚= Babi
肉エキス=  ekstrak daging
ビーフコンソメ = kaldu sapi
コンソメパウダー= serbuk kaldu
コンソメ = kaldu
洋酒 = Arak
酒 = Sake
アルコール= Alcohol
ブランヂ = Brendi
ラム =  Rum
みりん= sake merah
マーガリンMargarin (ada yang dari tumbuhan atau hewan)
ワイン= wain (minuman Anggur)
ゼラチン(ゲリ) = Gelatin (dari minyak hewan)
油脂 = Lemak
乳化剤 = pengemulsi (ada yang dari tumbuhan atau hewan)

Ada juga sebuah page di facebook yang diurus oleh seorang ibu-ibu yang baik hati suka bertanya ke perusahaan makanan tentang asal dan komposisinya, apakah mengandung bahan hewani atau tidak. Ini dia: Serijaya Indonesia. Semoga beliau mendapat banyak pahala, amin.

Selanjutnya sebenarnya terserah pada diri kita masing-masing. Apakah dengan sudah banyaknya informasi dan kemudahan ini, kita malah masih merasa "susah" dan membenarkan aktivitas "asal makan" ramen, pizza, potatochips, yakitori, yakiniku, atau juga kareraisu (nasi dengan kare biasanya mengandung daging. Kalaupun sayur, bahan kare tersebut sebenarnya belum tentu bebas bahan hewani)? Boleh saja sih, tapi kan kita tidak sedang dalam keadaan survival di tengah hutan, tiga hari belum makan, tapi cuma ada babi hutan di sana. Ya, nggak sih?



You Might Also Like

1 komentar

  1. thx sharenya... sangat bermanfaat. :)

    kayaknya emang musti sering masak buat ngakalin biaya makan di jepang hehe

    ReplyDelete

Search This Blog