Bersyukur Ramadhan di Indonesia

8:54 AM

Setelah kembali dari Jepang hampir satu tahun yang lalu, akhirnya saya merasakan kembali Ramadhan di tanah air. Bener banget, selama ini Ramadhan di Indonesia taken for granted. Bersyukur sekali wahai kalian manusia yang bisa melewati bulan suci di tanah air.


Miyajima
1. Jam puasa tak pernah berubah sepanjang tahun
だいたい、di Indonesia (wilayah Jakarta, Bandung dsb) kalau sahur paling pagi jam 4 WIB, dan Magrib paling lama itu jam 6.30 WIB. Tahun lalu, saya merasakan manisnya berpuasa di musim panas, yaitu Subuh jam 3 dan Maghrib pernah sekitar jam 7.30. Itu baru di Jepang, yang masih lebih mending kalau dibandingkan dengan di wilayah Eropa yang ampun-ampunan, katanya waktu puasa bisa mencapai 19 jam. Kalau sedang musim dingin memang lebih enak, waktu siang semakin pendek. Tapi menurut saya, justru waktu musim dingin itu bawaannya ingin makan terus, apalagi eskrim. 

2. Banyak pilihan makanan untuk sahur dan buka puasa
Terutama bagi anak kosan atau yang tinggal sendiri, pasti suka malas masak. Solusi terbaik memang abang-abang penjual makanan. Apalagi kalau bulan puasa makin menjamur penjual takjil musiman dengan menu wajib kolak atau es kelapa muda. Biasanya itu paling laris. Kalau mau sahur, bisa beli ke warteg terdekat, yang juga menyesuaikan jam operasionalnya dan biasanya sudah buka dari dini hari. 
Kalau di Jepang? Jangan ditanya deh. Selamat masak sendiri, mencari takjil sendiri, dan bisa-bisa buka puasa sendiri. 

3. Bagaikan musim reuni dan makan-makan
Entah kenapa, setiap bulan puasa, ajakan buka bersama bakal banyak bermunculan. Jaman sekarang sudah ada whatsapp dan line, bahkan bisa saja dibuat grup khusus untuk buka puasa bersama. Reunian juga pasti ada, mulai dari teman SD, SMP, SMA, kuliah, semuanya mau buka bareng. Sayangnya, suka bikin kantng kempes, tapi sisi positifnya kita bisa kembali menjalin silaturahim dan bertukar kabar terbaru.
Kalau di Jepang kemarin, biasanya buka bersama orang Indonesia, dan juga beberapa muslim dari negara lain. Tapi ya begitu, karena sibuk, hanya sesaat, lalu masing-masing kembali ke lab-nya. Jadwal buka bersama orang Indonesia juga ada seminggu sekali, tapi itu juga harus menyesuaikan dengan jadwal yang lain. Selain itu, lokasinya juga cukup jauh, sehingga butuh perjuangan sangat besar hanya untuk makan gratis, eh maksudnya iftar bersama. 

4. Suasana Ramadhan yang sangat terasa
Suasana dan atmosfer ini sangat penting untuk mendukung kegiatan beribadah. Di televisi banyak ceramah, acara islami, masjid-masjid semakin hidup dengan berbagai kegiatan, banyak juga aksi sosial untuk orang-orang yang tidak mampu. Sebulan ini, mayoritas orang Indonesia akan berpuasa, restoran pun diberi tirai, dan yang paling nikmat: tidak ada yang merokok ketika siang hari. 
Sementara itu, di Jepang yang puasa hanya berapa orang sih? Sebagai orang dewasa, melihat orang yang makan saat puasa pasti sudah biasa. Seperti misalnya kalu sedang puasa sunnah. Tapi, kalau tidak ada yang tahu itu adalah bulan suci, semua berjalan seperti biasa, motivasi dalam diri harus lebih besar dari biasanya. Untung waktu itu ada solat tarawih berjamaah (cuma 6-10 orang biasanya) di musola kampus. Sisanya, seperti bangun sahur, tilawah, dll, harus berjuang sendiri. Supaya lebih bersemangat, biasanya jadi banyak mendengarkan siaran radio tanah air, atau menonton acara tv Indonesia di internet. Interaksi dengan dengan muslim lainnya menjadi lebih intens, karena seperti butuh penguatan agar Ramadhan tidak berjalan seperti bulan-bulan biasa lainnya. 

5. Bisa sholat di masjid, mushola, di mana saja
Sebenarnya ini bukan cuma di bulan Ramadhan, tapi entah kenapa rasanya seperti melodramatis. Kemarin ketika saya solat di Salman, saya langsung ingat dan bersyukur dengan kemudahan dan nikmat bisa solat di tempat umum, berjamaah, tempat wudhu yang layak, tidak perlu mencari arah kiblat, bahkan mendengarkan ceramah saja tidak perlu dicari, karena memang tersedia di mana-mana. Jadi ingat dulu ketika mau solat harus repot wudhu di wastefel toilet, mencari lokasi langganan solat di dekat tangga darurat, atau ketika sedang jalan-jalan ke luar mencari ruang fitting, tempat parkir, atau pojokan sepi. Alhamdulillah, kembali di tanah air, semuanya yang sebelumnya taken for granted jadi lebih bersyukur dan menghargai. Sudah diberi banyak meudahan, azan di mana-mana, kok masih berani  dengan mudahnya meninggalkan solat. 

Mungkin ada poin-poin lain yang bisa ditambahkan? Semoga Ramadhan kali ini bisa lebih baik, lebih produktif dari pada Ramadhan sebelum-sebelumnya. Amin!

You Might Also Like

2 komentar

  1. Iya Mbak, bersyukur deh jadi muslim yang tinggal di Indonesia, Dibanding negara lain terasa serba mudah untuk beribadah, meski kadang saya penasaran pengen tau gimana berpuasa di negara lain. Salam kenal :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal juga mba :D iya seru kalaupuasa di negara lain, lebih terasa perjuangannya

      Delete

Search This Blog