Setelah Disertasi

5:39 PM

Di UK, syarat kelulusan program Master adalah dengan menulis sebuah disertasi. Aneh ya, karena kita terbiasa mendengar disertasi untuk tingkat doktoral. Memang ini juga terasa ganjil karena di Eropa juga program Master ya berarti menulis tesis, bukan disertasi. Karena biasanya diskusi ini tak berujung, jadi kita sudahi saja, karena pada intinya sama, yaitu menulis sebuah tulisan akademik dengan topik tertentu dengan kajian yang mendalam setara untuk level kelulusan master.

Setiap program, atau jurusan, bahkan di dalam satu universitas, memiliki tanggal pengumpulan disertasi yang berbeda-beda. Sebagai contoh, ada yang deadline-nya sejak pertengahan Juli, sementara ada program lain yang September. Di dalam satu fakultas atau sekolah juga ada perbedaan pengumpulan, tapi yang penting intinya adalah kemampuan sang mahasiswa untuk mengatur waktu yang ada dan menyelesaikan disertasi sebaik mungkin. Sekali lagi, plagiarisme merupakan sebuah isu yang sangat krusial, sehingga setiap mahasiswa sebaiknya mengecek terlebih dahulu isi tulisannya lewat program khusus, biasanya memakai Turnitin. Setiap universitas sudah berlangganan agar para mahasiswa bisa menggunakannya secara gratis. Ini adalah layanan berbayar untuk memeriksa berapa persentase plagiarisme dalam sebuah tulisan. Tidak mungkin hasil pemeriksaannya 0% walaupun sudah menggunakan sistem referensi yang baik dan benar, seperti tanda kutipan untuk kuotasi, dan daftar pustaka. Biasanya ada jumlah batasan persentase yang dianggap masih dalam batas wajar.

Setelah menyelesaikan disertasi, yang muncul berikutnya adalah pertanyaan baru: Now what?

Disertasi adalah sebuah proyek penulisan akademis yang terasa besar bebannya, secara mental maupun fisik. Ada yang mengandaikan disertasi bagaikan sebuah bisul yang siap pecah. Ada juga yang membandingkan disertasi dengan 'buang hajat'. Yang jelas, seusai disertasi, akan muncul rasa lega luar biasa, namun disertai kebingungan untuk menentukan langkah selanjutnya.

Bagi sebagian orang, ketika mengerjakan disertasi akan muncul rasa jenuh luar biasa hingga sampai pada titik muak dan menyesali keputusan untuk melanjutkan studi, sampai bersumpah untuk tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, setelah selesai, justru bagi saya pribadi, terasa sebuah kebanggaan telah berhasil menyelesaikan sebuah tantangan. Bagaikan mendaki gunung dan melihat ke bawah, betapa diri ini berhasil menaklukkan seluruh batasan tenaga dan pikiran-pikiran negatif.

"It is our choice, Harry, that show what we truly are, far more than our abilities." (Albus Dumbledore)

Melihat kembali keadaan diri sendiri setahun sebelumnya, tidak terbersit pikiran bahwa diri ini dapat menulis sebuah tulisan akademis, full in English, Tapi, seperti karakter game, kita harus terus berubah, menempa kemampuan diri menjadi lebih baik. Musuh-musuh di luar sana terus berkembang, dan kita juga tidak boleh berhenti tumbuh dan belajar. Kalau hanya sebuah tulisan 12,000 kata saja sudah berhasil ditaklukkan, bukanlah mustahil untuk selanjutnya menantang diri untuk menulis buku, bukan?

Dua buah hardcopy disertasi yang terasa seperti 'anak sendiri', tapi tetap harus submit file dokumen online-nya. Finished in 14k-ish words, alhamdulillah.

Saya sendiri teringat dengan kata seorang teman sekelas saya dari Palestina. " I want to challenge myself," katanya dengan menulis full-dissertation. Di program yang saya ambil, kami boleh memilih antara menulis disertasi sebanyak 12,000-15,000 kata, atau melakukan proyek dan menulis essay 6,000 kata, beserta reflection. Sebelumnya di program sarjana, saya memilih project-based sebagai syarat kelulusan, dan kali ini saya ikut tertantang untuk menulis sebuah tulisan akademis panjang alih-alih kembali melakukan proyek. Jika di term sebelumnya saya berhasil menulis 6,000 kata essay, maka saya harus bisa melompati hambatan 12,000 kata ini. Dan berhasil, bahkan saya menulis lebih dari 15,000 sehingga butuh waktu untuk meng-edit kembali tulisan saya agar tidak melebihi batasan.

Singkat kata. jangan berhenti tumbuh dan berkembang. Ilmu bisa diperoleh di mana saja, tergantung diri kita masing-masing, apakah akan mengambil ilmu tersebut atau tidak? Seseorang bisa duduk satu jam di dalam kelas tanpa memahami satu pun kata, sementara seorang pelajar sejati bisa mengambil hikmah dari setiap episode kehidupan, tak harus di dalam sebuah institusi pendidikan. Selamat menikmati liburan pasca-disertasi, dan semoga kemampuan untuk menyerap keberkahan ilmu dan semangat untuk terus belajar akan terus bertambah.

London, 26 Agustus 2016
Salam perjuangan untuk teman-teman yang masih mengerjakan disertasi. 

You Might Also Like

0 komentar

Search This Blog