Aftertaste: Crazy Rich Asians

9:52 AM

Note: Ini bukan review buku, tapi saya gatal ingin menuliskan buah pikiran setelah selesai membaca novel Crazy Rich Asian. 

Crazy Rich Asians adalah sebuah novel fiksi tentang kehidupan orang-orang 1% yang berada di puncak piramida, yaitu kalangan super kaya. Bagi sebagian orang, ini adalah versi Asia alias Chinese dari Gossip Girl, namun sang penulis menyebutkan bahwa alasan ia memuat cerita ini karena kisah tentang orang-orang Asia masih underrepresented dalam dunia literasi.

Bermula dari Crazy Rich Asian, kini kisah tersebut menjadi sebuah trilogi. Gambar dasi sini.  
Sang penulis, Kevin Kwan, berasal dari Singapura namun bersama keluarganya pindah ke Amerika dan menetap hingga saat ini. Karakter yang ada di dalam bukunya yang menjadi best seller ini terinspirasi dari orang-orang yang benar-benar ada. Ceritanya pun juga berasal dari pengalaman pribadinya, sehingga tak sedikit yang merasa related meskipun bagi sebagian kalangan masih heran dengan keberadaan orang-orang super kaya ini.

Di Indonesia sendiri, sebelumnya sudah ada novel serial Keluarga Hanafiah yang ditulis oleh Sitta Karina. Karya-karyanya yang populer pada kisaran tahun 2005-2009 berkisah tentang keluarga yang terhitung sagat kaya dari pada rata-rata tingkat ekonomi orang Indonesia (meskipun masih kalah jetset-nya dengan Crazy Rich Asian). Setelah itu, sempat terkenal juga buku Miss Jinjing, yang hobinya melakukan shopping spree di luar negeri. Buku tersebut ditulis berdasarkan kisah nyata dan pengalaman pribadi penulisnya.

Salah satu buku dari Miss Jinjing. 
Bagi saya pribadi, dulu ketika masih ingusan dan membaca buku-buku tersebut, semua cerita tentang kaum super berada dengan segala perilaku yang tak biasa terlihat hanya sebagai sebuah fatamorgana dan fantasi belaka. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, bertambahnya usia dan pengalaman, saya kini tak lagi mempertanyakan keberadaan kaum jetsetter tersebut. Di Wina saya bertemu serombongan ibu-ibu Indonesia yang memenuhi toko Svarovski. Di London saya bertemu mahasiswa Asia yang kuliah dibiayai orangtua, naik pesawat business class, dan berbelanja di toko Burberry. Untuk level yang suka masuk majalah Tatler masih belum ketemu pribadi, tapi you can take a glimpe of their life dari akun instagram mereka. Kesamaan yang bisa ditemui adalah mobilitas tinggi level global, liburan membawa paspor, investasi di bidang pendidikan, serta barang-barang bermerek wajib di tangan. Tak jarang semakin banyak yang menjadi social climber, sebuah realita yang juga ditangkap dalam novel Crazy Rich Asian.

Novel karya Sitta Karina, Imaji Terindah. 
Pada satu kesempatan, saya bertanya kepada Sitta Karina, dari mana ia mendapat insipirasi Keluarga Hanafiah. Ia mengatakan bahwa keluarga tersebut memang berasal dari kehidupan nyata keluarga besarnya. Kevin Kwan, sang penulis Crazy Rich Asian yang akan segera naik ke layar lebar, juga mengatakan bahwa setelah novelnya terbit, ada beberapa orang yang menghubunginya karena merasa karakter mereka adalah tokoh-tokoh dalam novelnya. Ia pun sangat memahami berbagai istilah dan gaya hidup orang-orang di dalam novelnya yang kini telah menjadi trilogi, karena memang berada di lingkaran orang-orang tersebut.

Kaum proletar yang menjadi mayoritas pembaca kisah-kisah tersebut tentu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala ketika membaca Astrid membeli gaun seharga ratusan ribu dolar. Tapi itulah kenyataan dunia fana ini. Orang-orang itu memang benar-benar ada. Well, di satu sisi memang sangat menyakitkan ketika masih banyak orang miskin di dunia yang tidak memiliki atap untuk berteduh, untuk makan hari esok masih belum jelas, dan orang-orang memerah keringat demi sesuap nasi. Kesenjangan yang haqiqi.

Kesuksesan kisah ini sebagai produk kreatif, mulai dari novel, hingga film, menurut saya tidak akan lekang oleh zaman. Di saat pembaca mencari tempat untuk kabur dari kebosanan dunia nyata, cerita tentang orang-orang yang dengan mudahnya bepergian dengan pesawat jet pribadi akan menjadi sebuah escapism. Di saat penduduk bumi masih lebih banyak yang bekerja membanting tulang dibanding yang hanya perlu menunggu pendapatan pasif masuk dari hasil kepemilikan saham dan fluktuasi harga properti, novel-novel semacam ini menjadi pelarian sebagai bentuk imajinasi cita-cita yang belum tercapai.

Tapi akankah sebagian pihak merasa kisah-kisah ini menjadi sebuah tamparan akan sebuah gambaran dunia yang semakin jauh jurang antara kaya dan miskin. Ketika yang kaya merasa besarnya sumbangan yang diberikan untuk yayasan amal yang mereka dirikan sendiri sebanding dengan prestis yang akan diraih. Ketika orang-orang miskin hanya bisa bertanya-tanya dan menjadi korban kebijakan yang dibuat orang-orang yang bisa jadi tidak pernah mengerti kehidupan dengan rumah super mini tanpa cahaya matahari.

Bagi saya pribadi, ini menjadi sebuah catatan lain. Menjadi super kaya, kaya saja, atau miskin sejatinya memiliki akhir cerita yang sama, karena toh semua akan masuk liang lahat berupa lubang seukuran badan saja. Seorang ustadz pernah memberikan nasihat: "Agar semakin bersyukur, lihatlah ke bawah, karena masih banyak orang yang kurang beruntung dari pada kita. Tapi dalam beramal, lihatlah ke atas, karena kita harus selalu berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan." Semoga kita bisa semakin banyak beramal untuk bekal di kehidupan selanjutnya kelak. Amin.

You Might Also Like

0 komentar

Search This Blog