[BEASISWA] PENGALAMAN MENCOBA MEXT ALIAS MONBUSHO (part 2)

Bagi yang belum membaca awal mula kisah saya daftar beasiswa MEXT alias Monbusho pada tahun 2014, silakan baca di sini. Ini adalah kisah selanjutnya, tanpa terasa baru ditulis tiga setengah tahun kemudian. Mohon maaf lahir batin.

Bapak Ojek sudah memacu motornya secepat mungkin dari Kedubes Jepang yang berada di Bundaran HI. Jalanan juga sebenarnya relatif lancar, namun apa daya, memang jarak cukup jauh dan banyak persimpangan dengan lampu merah, saya baru tiba di Pusat Studi Jepang UI sekitar pukul 11.30. Sudah terlambat 30 menit. Tak terbayang bagaimana nanti, apalagi kalau menyangkut Jepang-jepangan begini kan kudu banget tepat waktu.

"Maaf, saya terlambat. Saya salah lokasi, saya kira di Kedubes Jepang." Saya masih pakai helm tapi sudah mengiba-iba kepada salah satu panitia yang menyambut di pintu masuk.

"Tesnya sudah dimulai. Kamu terlambat, tidak bisa." Jlebb... Dada terasa tertusuk panah. Rasanya kayak berenang jauh, tepian kolam renang sudah siap diraih, eh tapi kok tiba-tiba jadi jauh banget, ada yang nge-stretch area kolam renangnya.

"Tapi saya tadi sebenarnya sudah tepat waktu banget, hanya salah jadwal. Tolong ya mba, saya tadi jam 10.30 sudah di Kedubes, lalu baru tahu salah tempat, langsung ke sini. Tolong banget mba." Saya sudah separuh menangis tapi belum, karena masih deg-degan dan keringetan banget.

Alhamdulillah, akhirnya sang panitia berbaik hati tidak langsung menolak. "Saya coba tanya dulu ya mba." Ia kemudian masuk ke dalam, coba berkonsultasi dengan rekan lainnya.

Sambil menunggu, saya komat kamit membaca doa. Ya Allah, semoga dimudahkan. Saya sudah sejauh ini naik ojek, entah berapa bayarnya (jaman dulu belum ada gojek), semoga tidak sia-sia.

Si panitia kali ini datang bersama rekannya. "Silakan mba, boleh ikut. Tapi kami tidak akan memberikan tambahan waktu."

Alhamdulillah!! Saya langsung ke bapak tukang ojek, mengembalikan helm, lalu membayar dengan selembar uang warna merah. Tarif ojek termahal yang pernah saya bayar, plus super berterima kasih kepada si bapak yang bersedia tiba-tiba mengantar seorang mahasiswa slebor yang salah baca tempat ujian.

"Gimana, boleh ikut ujian?" Tanya bapak ojek.

"Boleh, Pak, Alhamdulillah. Makasih ya, Pak." Walaupun saya ngga tahu nama bapak, saya masih terus berterima kasih sama bapak. Semoga rejeki lancar dan barokah ya Pak, amin.

Auditorium Pusat Studi Jepang UI juga suka dipakai acara lain. Tapi kurang lebih begini lokasinya, saya kan ngga mungkin ambil foto waktu ujian karena tidak boleh pegang HP. Saya duduk di area atas karena terlambat. Kursi diisi selang seling supaya tidak bersebelahan. Lumayan penuh juga waktu itu. (Foto dari @ulyasy).

Long story short... Saya masuk, ikutan ujian Bahasa Inggris yang waktunya cukup tersunat. Saya mencoba mengerjakan sebisa saya. Lalu sesi berikutnya adalah ujian Bahasa Jepang. Saya mencoba mengerjakan sebisa saya, nekat saja, apalagi saya mencoba mendapat poin lebih karena takut ujian Bahasa Inggrisnya kurang maksimal. Peserta ujian banyak yang langsung mengumpulkan kertas jawaban ujian Bahasa Jepang tanpa diisi karena memang tidak bisa berbahasa Jepang. Lagipula, katanya kalau tidak bisa, maka yang akan dinilai hanya dari tes Bahasa Inggris saja.

Skip skip skip...

Akhirnya saya masuk sesi wawancara. Entah bagaimana, walapun saya mengajukan research proposal lebih ke bidang desain, namun saya dikelompokkan bersama peserta dengan keilmuan Bahasa Jepang dan humaniora lainnya. Lumayan mirip sih, tapi ketika wawancara jadi tidak terlalu membahas topik riset.

Karena saya sebelumnya pernah exchange setahun di Osaka University, maka saya ditanya juga beberapa pertanyaan tentang pengalaman tersebut, juga kemampuan bahasa Jepang. Apa lagi ya? Pertanyaan wawancaranya cukup standar, seperti membahas riset secara singkat, lalu rencana ke depan, dsb. Yang mewawancara saya adalah beberapa orang Jepang serta satu orang dosen Indonesia. Katanya dosen Unpad di bidang linguistik. Sesi wawancara dilakukan dengan Bahasa Inggris.

Skip skip skip... Akhirnya datang pengumuman siapa saja yang lolos. Alhamdulillah saya lolos, dan langkah selanjutnya adalah mencari LOA dari sensei dan kampus yang dituju. Setelah mencoba ke beberapa kampus, saya mendapat satu LOA dari Kyushu University.

Namun di saat yang bersamaan, saya juga mendaftar LPDP dan Alhamdulillah diterima. Setelah melalui banyak pertimbangan, pemikiran, tanya-tanya, berdoa, dsb dsb, saya memutuskan untuk melepas beasiswa MEXT ini (berikut semua konsekuensi yang mungkin timbul dari keputusan tersebut).

Pertama, program untuk S2 di Jepang ini harus melalui fase Research Student, yang bisa bervariasi dari 6 bulan hingga satu tahun. Setelah mengikuti ujian masuk S2, baru mulai kuliah selama 2 tahun. Kalau ditotal, maka bisa menghabiskan waktu 2,5-3 tahun. Sementara itu untuk LPDP, saya apply kuliah program master satu tahun di Inggris. Pertimbangan lama waktu studi ini cukup mempengaruhi keputusan saya.

Kedua, saya sudah pernah ke Jepang, dan dari pergaulan bersama mahasiswa S2 S3 asal Indonesia yang kuliah di sana, mahasiswa harus siap dengan segala tekanan (studi, paper, riset, etc). Entahlah, saya mungkin memang bukan tipe fully academic person sehingga ini menjadi bahan pertimbangan juga. Jangan salah, kalau S3 di Jepang, tidak semuanya bisa pulang membawa gelar Phd. Ada beberapa yang selesai begitu saja, karena ada beberapa masalah ketika studi. Kuliah itu berat ya...


Good ol' days circa 2012-2013

Ketiga, saya ingin belajar di negara lain yang berbahasa Inggris. Saya sadar dengan kemampuan bahasa saya, dan lebih percaya diri untuk bisa belajar dengan suasana English. Termasuk buku teks-nya ya. Kalau Jepang, kemampuan bahasa saya masih biasa banget, hanya level komunikasi dasar, asal ngga nyasar, dan belum bisa bahas topik berat. Sementara untuk ilmu humaniora, jauh lebih banyak sumber berbahasa Jepang, dan lingkungan sekitarnya tentu berbahasa Jepang. Meskipun nanti akan belajar bahasa Jepang dulu, tapi saya merasa learning curve nya cukup menantang. Saya hingga saat ini super salut banget dengan teman-teman desain yang berani kuliah di Jepang (Anggi, Bhaskara, Yodha, dkk mantapss).

Sebelum keluar pengumuman final penerima beasiswa dari kedubes Jepang, saya membuat surat pengunduran diri. Semoga yang masuk waiting list jadi bisa naik dan dapat beasiswanya. Dan teman saya yang sudah dapat MEXT bilang, kalau mengundurkan diri, siap-siap kena black list alias akan lebih susah untuk daftar beasiswa dari kedubes Jepang.

Bismillah. Saya memutuskan untuk mengambil LPDP dan Alhamdulillah saya bersyukur atas segala hal yang terjadi selanjutnya.

Comments