Kuliah di London Dapat Apa?

Tidak ada kata terlambat untuk berbagi tulisan. Harap dimaklumi waktu kuliah rasanya tidak ada waktu untuk menulis di blog. Terbukti dari jumlah tulisan di blog yang makin menurun pada periode pertengahan 2015 sampai 2016. Sungguh sebuah penurunan drastis :''(

Topik yang akan dibahas kali ini adalah tentang 'Ilmu Perkuliahan'.

Beberapa orang teman saya bertanya, “kuliah di London dapat apa saja? Belajar apa saja?” Sepersekian detik, tentu rasanya ingin mencoba merangkum seluruh perjalanan menuntu ilmu menjadi satu kalimat. Susah kan. Namun, saya teringat juga perkataan seorang teman, temannya yang baru pulang dari kuliah di UK mengeluh, “Ah, ngga belajar apa-apa kuliah di Inggris."

Benarkah?

Program master saya sebetulnya jauh dari kata sempurna. Tentu saja, apa sih yang sempurna? Bahkan katanya tahun sebelumnya, ada serangkaian protes dari mahasiswanya yang menganggap materi kuliahnya tidak penting. Bagi para mahasiswa asing yag harus membayar dua kali lipat dari pada mahasiswa UK dan Eropa, tentu mereka ingin uang yang sudah dikeluarkan memiliki manfaat. Saya, berhubung mendapat beasiswa, lebih senang menikmati saja proses perkuliahan penuh dinamika saat itu.

Kalau dihitung-hitung, sebetulnya jumlah kelas tatap muka tidak terlalu banyak. Lebih banyak self-study, di mana mahasiswa diharapkan bisa menelaah buku dan referensi, dan dibawa ke dalam bahan diskusi di kelas. Seperti yang pernah saya bilang, seminggu diharapkan meluangkan waktu minimal 30 jam untuk membaca.

Saya kembali teringat di masa kuliah S1 yang malah terlalu banyak waktu luang karena dosen beberapa kali tidak hadir di kelas studio. Teman-teman sejurusan saya bahkan beberapa alih profesi, tidak menjadi desainer. Toh, wajar kan. Dari dulu juga banyak yang jurusan X, akhirnya bekerja di bank, misalnya.

Kembali ke pertanyaan di awal. Dapet apa sih?

Kegiatan syuting mengerjakan tugas kelompok bersama dua teman sekelas, 2016. 

Secara kasat mata, tentu kuliah mendapat ilmu pengetahuan baru. Materi kuliah, bahan bacaan, hasil diskusi, maupun hasil konsultasi dengan para dosen. Itu saja? Tentu tidak. Kuliah di luar negeri, jauh dari keluarga dan teman, tentu membuat seseorang lebih mandiri. Mulai dari mengatur arus kas dari uang beasiswa (Alhamdulillah kalau LPDP tidak pernah terlambat), pintar memasak dengan bahan makanan yang tak biasa, hingga hidup di lingkungan baru bersama warga internasional.

Justru menurut saya, di luar materi kuliah, ilmu kehidupan jauh lebih berharga karena benar-benar langsung dipraktikkan. Sementara itu, ilmu kuliah bisa jadi baru dipraktikkan sedikit demi sedikit di masa depan. Diterapkan di tempat kerja pun sebenarnya tidak mungkin seratus persen bisa, karena banyak yang harus diadaptasikan. Toh kondisi UK dan Indonesia tidak sepenuhnya sama, orang-orang dan lingkungannya tidaklah serupa.

Acara perayaan Idul Fitri di Trafalgar Square, 2016.

Sebagaimana perkuliahan yang memiliki ruang kelas, kehidupan nyata sejatinya adalah tempat belajar juga. Semua tergantung muridnya, apakah memang bersedia terus belajar, atau menganggap sekolah sudah selesai seusai menggunakan toga dan menggenggam secarik ijazah. Hidup ini adalah sebuah perjalanan, sebuah proses, menuju kehidupan berikutnya yang abadi. Saat ini adalah waktunya untuk mengumpulkan nilai terbaik supaya kalau “lulus” bisa mendapat tempat terbaik di surga-Nya. Amin ya Rabbal Alamin.

Comments