Pekerja Kreatif Terdampak Saat Pandemi Corona, What to Do?

"Proyeknya dihentikan dulu sementara, mungkin nanti baru lanjut syuting lagi setelah corona selesai."

"Startup tempat gue kerja bubar. Gue terakhir kerja bulan ini. Habis itu belum tahu mau kerja di mana."

"Banyak proyek yang batal dan belum bayar, gaji kita jadi kena potongan. Untung nggak kena
lay off."

Dan masih ada berbagai kisah sedih lainnya yang saya dengar langsung dari pihak pertama maupun diceritakan dari temannya teman sesama pekerja kreatif. Saya sendiri pun mengalami dampak yang bisa dikatakan cukup signifikan. Barang dagangan yang tak terjual karena toko-toko yang menjadi stockist harus tutup hingga waktu yang tidak dapat ditentukan, juga saya rasakan bersama teman-teman yang memiliki brand dan berjualan produk tangible. 



Selama dua bulan lebih ini, semua orang terpaksa harus mengalami perubahan ritme bekerja. Yang tadinya ke kantor, jadi harus bisa beradaptasi kerja di rumah. Yang tetap harus kerja di luar rumah, harus terbiasa mengenakan masker dan mengubah moda transportasi karena berbagai lini transportasi publik mengalami pengurangan jadwal dan kapasitas. 

Yang paling terasa, terutama bagi para pekerja lepas kreatif maupun yang terkena PHK, adalah turunnya nominal pendapatan. Berharap mendapat bantuan, tapi tidak masuk kategori orang miskin. Salah satu jenis bantuan yang disediakan pemerintah adalah pengurangan pajak bagi UKM, tapi tentu tidak akan bisa menyentuh para pekerja lepas yang beroperasi perseorangan maupun tanpa badan hukum. 

BEKRAF yang biasanya aktif mengadakan acara (lumayan bisa menambah uang saku atau makan gratis kalau datang), sudah ditelan Kemenparekraf dan kalaupun ada tidak mungkin mengadakan acara kumpul-kumpul di masa pandemi ini. Mau cari kerja sampingan, tapi banyak brand atau usaha lainnya yang biasanya jadi calon klien menyunat anggaran demi memperpanjang umur bisnis. Ah, rasanya semua sedang struggling juga, jadi apa spesialnya keluhan satu orang ini?

Ya, bersedih di awal juga boleh, tapi kan tidak mungkin waktu-waktu ini dihabiskan hanya untuk meratapi nasib. Rasanya kuingin 2020 bisa segera berakhir dan 2021 bisa membawa kabar yang lebih baik. Tapi sedih juga kalau waktu terbang begitu cepat. Dalam masa prihatin ini, sebetulnya apa saja yang bisa dilakukan sambil mengencangkan ikat pinggang demi penghematan? 

Evaluasi diri

Cek dulu, ada di posisi mana saya saat ini. Apakah saya golongan yang masih bisa santai-santai dengan cara menghabiskan tabungan, atau harus segera mencari penghasilan tambahan karena memiliki tanggungan? Apakah saya memiliki hutang yang harus segera dibayar? Apakah saya harus menjual barang koleksi yang tersimpan di lemari pajangan demi sesuap nasi? Kondisi setiap orang yang berbeda akan menghasilkan langkah yang berbeda dalam mengambil keputusan. Jangan serta merta disamakan. 

Menambah pengetahuan dan skill

Di awal masa-masa lockdown, berbagai platform belajar online berlomba-lomba menawarkan kelas gratis untuk beberapa bulan. Banyak juga acara-acara yang menawarkan kelas zoom gratis hingga saya pun merasa kewalahan. Youtube live streaming juga menyiarkan kelas-kelas daring tersebut, tapi saking banyaknya, saya belum sempat menonton semuanya. Di luar itu, pastinya sudah ada berbagai channel Youtube yang berfaedah atau tutorial software yang belum sempat dicoba, kan? Ini saat yang tepat untuk menamatkan video-video tersebut. 

Membantu pihak terdampak lainnya

Apabila ada rezeki berlebih ( having a house to live in, having food to eat, having wifi, having good health, what else do you need?), berbagilah kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Bantuan bisa berbentuk uang, bantu share bisnis teman di sosmed, maupun tenaga cuma-cuma misalnya dengan bagi-bagi masker hasil jahitan sendiri. Percayalah, rezeki setiap orang sudah ditentukan. Justru dengan apa yang kita miliki, sejauh apa kita berani berbagi? Dengan daya berpikir kreatif, kita bisa menghasilkan ide-ide bantuan kreatif lainnya. 

Mencoba kerjaan sampingan atau bisnis baru 

Jeli meihat peluang, dalam masa pandemi ini ada barang-barang yang jadi semakin dicari. Selain masker bedah sensi 3 lapis itu ya. Misalnya, hampir semua brand, usaha konveksi, dan banyak toko yang kini menjual masker kain. Inovasi pun semakin banyak bermunculan. Masker print bergambar custom? Bisa. Masker berrenda yang matching dengan baju? Bisa. Masker anti-air, anti-bakteri, anti-hembusan nafas buat mematikan api lilin? Bisa. Beli barang juga sekarang berhadiah masker. Tutorial membuat masker tanpa jahit, atau masker dengan aneka bentuk sudah banyak bermunculan di Youtube maupun Tiktok. Kalau kreatif sepertinya tidak ada habisnya untuk berkarya dan tetap menghasilkan pundi-pundi. Yang penting, berani mencoba, tapi jangan lupa perhatikan juga resikonya. Jangan sampai makin buntung ya. 



Memiliki pola pikir kreatif tak berarti pasti bisa kebal menghadapi gonjang ganjing kehidupan. Produk kreatif memang subjektif, marketnya pun bisa subjektif. This type of uncertainty is the nature of creative business. Ya... walaupun klien sukanya yang pasti-pasti aja kan. 

Sudahlah, jangan banyak berharap pada pemerintah kalau memang mental diri ini belum ditempa sedemikian rupa untuk tahan terhadap badai. Bersedih boleh, tapi jangan terlalu lama ya... Kalau memang butuh bantuan, jangan sungkan bercerita juga (asal jangan malu-maluin). 

Stay safe, keep social distancing, and be resilient. 

Drop me an email if you need a brainstorming partner or just wanna share your story. Let me know if I can be any sort of help.


Comments

Popular Posts