Memanusiakan Perjalanan: Review Buku Garis Batas oleh Agustinus Wibowo

Terima kasih Asma, sudah memperkenalkanku dengan Agustinus Wibowo.

Buku ini mengisahkan perjalanan seorang Agustinus Wibowo di negara berakhiran -tan yang merupakan pecahan Uni Soviet, yaitu Tajikistan, Kirgistan, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan. Masing-masing negara yang dikunjungi Agustinus memiliki keunikan dan keseruan sendiri, apalagi diramu dengan kisah-kisah latar belakang politik, ekonomi, sosial, dan pengalaman pribadinya sendiri. Tak berlebihan rasanya jika pembaca bisa terhipnotis merasakan serunya berkelana menyelami suasana di negara-negara tersebut pada kisaran tahun awal 2000-an.

Dengan judul Garis Batas, buku ini dicetak pertama kali pada 2011 oleh Penerbit Gramedia. Buku yang saya pegang (hadiah dari Asma waktu itu) adalah cetakan ke enam. Cukup tebal dan berat, dengan total 514 halaman. Jika tidak ingin membawa buku berat-berat, kisah perjalanan Garis Batas oleh Agustinus Wibowo ini bisa juga dibaca di sini.

Kesan pertama di saat aku membaca buku ini adalah seru dan misterius. Bagaimana tidak? Negara-negara ini seakan jauh dari jangkauan, jarang terdengar, dan kalah banyak diberitakan dibandingkan negara tetangganya, yaitu Cina dan Rusia. Jujur saja, jika disuruh menunjuk lokasi negara-negara tersebut di dalam peta, aku hanya bisa asal tunjuk, yang penting ada di dekat Rusia dan Cina. Sejauh ini aku hanya pernah melihat jamaah haji dan umrah asal Uzbekistan dan Kazakhstan ketika di Arab Saudi.

Dalam buku ini juga mengisahkan pertemuan, persahabatan, maupun pengalaman pahit yang ditemui oleh Agustinus. Yang paling menarik adalah kisah orang-orang lokal di sana. Bagaimana mereka menjalani kehidupan di tengah kemiskinan (seperti di Tajikistan) maupun di daerah kaya karena berlimpah sumber minyak (yaitu di Kazakhstan) selepas harus melepas ketergantungan dari Uni Soviet. Bagaimana pengaruh Islam sedikit semi sedikit bertransformasi dan tak lagi dipraktikkan oleh masyarakat kebanyakan di negara-negara tersebut.

Potret masyarakat pada tahun-tahun perjalanan Agustinus bisa saja sudah berubah drastis di tahun 2018 ini. Dengan pengaruh internet dan perkembangan teknologi yang sangat cepat pasti menciptakan perubahan di level sosial dan ekonomi. Rasa ingin tahuku semakin tergelitik untuk menggali bagaimana keadaan negara-negara -stan itu saat ini. Apakah budaya selfie dan ber-instagram ria sudah masuk?

Perjalanan di mata Agustinus adalah sebuah pengembaraan menyibak tirai misterius. Semakin dalam menjelajah, maka sedikit demi sedikit tirai tersebut akan terbuka dan menampakkan wajah aslinya. Membaca tulisan Agustinus ini membuatku kembali memikirkan makna traveling. Memang bagi Agustinus ini bukan pelesir suka ria demi melepas penat. Tak jarang ia malah semakin pusing karena harus memikirkan budget yang super mepet.

Selain menuangkan hasil petualangannya, Agustinus juga menuliskan pandangannya mengenai 'Garis Batas', sebuah garis tak kasat mata yang bisa menciptakan takdir berbeda bagi orang-orang yang berada di sekitarnya. Salah satu tempat menarik yang ia sambangi adalah Dusun Gulshan tepat di perbatasan Uzbekistan dan Kirgistan, di mana memiliki sebuah identitas kewarganegaraan hanyalah berarti di mana rumah mereka kebetulan berdiri. Lagi-lagi aku dibawa untuk merenungi arti identitas, bangsa, dan kewarganegaraan. Sebelum semua garis batas ini tercipta, apakah arti sebuah kewarganegaraan?

Salah satu akibat 'garis batas' ini adalah keharusan Agustinus sebagai WNI untuk mengurus visa demi bisa menjejakkan kaki di sana. Proses mendapatkan visa pun jadi cerita tersendiri di buku ini. Memang sebagai manusia dengan paspor Indonesia harus siap repot mengurus visa untuk mengunjungi banyak negara. Sangat berbanding terbalik dengan kebijakan Indonesia yang membolehkan lebih dari seratus negara masuk tanpa membayar visa.


Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allâh ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allâh Maha mengetahui lagi Maha Mengenal [al-Hujurât/49:13]
Semoga dengan saling mengenal orang-orang yang berbeda bangsa maupun beda suku ini bisa mendatangkan pengetahuan baru, meningkatkan rasa persaudaraan dan kemanusiaan, serta tak lagi saling menyombongkan diri. Pada akhirnya yang akan dinilai adalah ketakwaan kita terhadap Allah Swt.

Comments