Jepang Dulu dan Kini

Mengunjungi Jepang terasa seperti sebuah nostalgia ketika lima tahun yang lalu aku tinggal di Osaka sebagai seorang mahasiswa pertukaran. Tak banyak yang berubah. Masih banyak kakek-nenek berseliweran. Mobil di jalanan masih tertib berlalu lintas. Kereta masih ramai. Taksi masih mahal. Depachika masih penuh pelanggan. Stasiun Tokyo masih terasa membingungkan. Ah, rasanya ingin kembali ke masa-masa pertukaran pelajar yang santai tanpa beban akademis yang terlalu menekan. 

Suasana pinggiran Tokyo yang sepi dan damai.... Di ujung kejauhan ada Tokyo Sky Tree yang tertutup kabut dan awan karena sedang mendung. (dokumentasi pribadi, Tokyo 2018)

Masa sih, tidak ada perubahan? Aku yang kali ini mengunjungi Tokyo dan Kansai (Osaka, Kyoto, dan sekitarnya) sebagai seorang turis, mencoba menangkap berbagai sinyal-sinyal perubahan yang belum terasa ekstrem sebagaimana di Jakarta.

Di Jakarta lima tahun yang lalu belum ada pengendara ojek berjaket hijau berlalu lalang. Pada 2013 lalu jalur Commuter Line juga baru mulai mengadopsi tiket elektronik. Billboard masih sepi dari iklan-iklan layanan ecommerce yang kini berperang merebut perhatian: merah, hijau, jingga, juga biru. Denyut perekonomian terasa berdegup kencang. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi dalam lima tahun mendatang di ibu kota Indonesia ini?

Bagaimana dengan Jepang? Jepang masih terasa aman dan damai menurutku. Sebuah negara yang sangat ideal ditinggali setelah pensiun, apalagi bagi yang ingin mencari ketenangan. Berbagai fasilitas mendukung untuk memiliki usia panjang yang berkualitas, seperti transportasi publik, asuransi kesehatan, maupun dana pensiun. Semakin jauh dari pusat kota maka akan semakin tentram. Meskipun sering mengalami gempa bumi, namun berbagai tindakan preventif dan tingkat kesiapan untuk menghadapi bencana sudah jauh lebih matang dari pada Indonesia.

Tokyo, sang ibukota, saat ini sedang bersolek untuk menyiapkan Olimpiade 2020. Maskot-maskot dan segala keriuhannya sudah mulai terasa di beberapa tempat. Tentu ini akan menjadi momen penting setelah terakhir kali Tokyo menjamu Olimpiade pada 1964 lalu. Kalau ada yang tertarik menjadi volunteer di Tokyo bisa coba di sini, lumayan bisa nambah pengalaman.

Lima tahun yang lalu, Jepang baru mengeluarkan IC card terintegrasi sebagai alat pembayaran transportasi publik. Sebelumnya mereka masih menggunakan IC card yang hanya valid di daerah masing-masing, serta memakai tiket kertas, tiket seperti kartu telepon dengan nominal tertentu, dsb. Kartu ICOCA yang dulu aku beli masih bisa dipakai ketika aku menggunakan kereta JR lima tahun kemudian. Belanja di konbini alias conveniece store seperti Lawson, Seven Eleven, jajan di kantin kampus juga bisa memakai IC card. Penggunaan fasilitas loker di stasiun juga sudah banyak yang bisa menggunakan IC card. Yang membuat penggunaan IC card ini lebih simpel dibanding di Jakarta (beda kartu, beda bank, beda tempat isi ulang) adalah proses pengisian ulang yang bisa dilakukan di semua mesin tiket maupun di konbini.

Bangunan luar Stasiun Tokyo, tepat di seberang Imperial Palace (dokumentasi pribadi, Tokyo 2018).

Loker yang menggunakan IC card sebagai alat pembayaran maupun kunci loker (dokumentasi pribadi, Osaka 2018).

Tak hanya itu saja. Wifi gratis kini semakin banyak tersedia di area publik. Contohnya di dalam kereta, lokasi wisata, juga di bandara. Dulu jangan berharap ada koneksi gratis untuk sekedar mengirim chat atau browsing. Koneksi wifi gratis dahulu baru tersedia untuk pelanggan operator tertentu yang tentunya sudah memiliki paket internet.

Sebagai pengunjung Muslim, kini saya merasakan sebuah perubahan yang sangat besar di Tokyo dan Osaka. Di berbagai tempat umum kini tersedia area untuk salat, seperti di Stasiun Tokyo, Narita Airport, bahkan shopping mall di Osaka. Di beberapa kota besar lainnya juga sudah bermunculan tempat serupa. Tampaknya sebagian kalangan sudah mulai melihat potensi turis-turis Muslim yang semakin banyak berdatangan, terutama dari Asia Tenggara.

Sebuah ruang untuk salat di Namba dilengkapi dengan area berwudu, mukena, sajadah, juga Quran dengan terjemahan Bahasa Indonesia. Daftar dulu di meja informasi tidak jauh dari musola, nanti petugas akan memberikan kartu dengan kode angka untuk membuka pintu musola. Musola hanya beroperasi selama mall buka saja. (dokumentasi pribadi, Osaka 2018)

Restoran halal juga semakin banyak hadir dengan aneka menu otentik khas Jepang. Kalau sushi memang relatif lebih aman dimakan karena tidak dimasak, tapi yang paling membuatku penasaran adalah ramen. Ramen pada dasarnya menggunakan daging babi tak hanya untuk sajian dagingnya namun juga untuk kuahnya. Kini sudah ada beberapa tempat yang menjual ramen halal di beberapa kota besar di Jepang.

Salah satu tempat yang kudatangi adalah Ayam-Ya di Namba, Osaka. Kokinya orang Jepang, pelanggannya pun banyak warga lokal kaum pekerja di sekitar restoran. Aku datang bersama host mom-ku yang juga warga asli Osaka, namanya Miki-san. Nenek lincah dengan satu orang cucu ini senang sekali mengetahui akhirnya aku bisa mencicipi ramen. Ia pun mengakui kelezatan ramen tersebut. Aku yang belum pernah mencicipi ramen di Jepang sangat terkesan dengan cita rasa kaldu dan bumbu-bumbu yang menggoyang lidah, serta mi yang kenyal dan ketebalan yang pas. Osusume! Highly recommended!

Ramen dengan daging ayam di Ayam-Ya. Mantap!! (dokumentasi pribadi, Osaka 2018)
Akhirnya naik taksi bareng-bareng. Tarif pertama kali buka pintu di Osaka adalah sekitar 600-an Yen alias sekitar Rp 85.000 (dengan kurs per Agustus 2018). Tidak perlu membuka atau menutup pintu taksi sendiri karena pak supir punya tombol untuk buka-tutup pintu (dokumentasi pribadi, Osaka 2018).

Satu-satunya hal yang paling membuatku rindu terhadap Jakarta adalah kemudahan menggunakan ojek online. Rasaya sudah seperti mau copot kaki ini setelah berjam-jam jalan kaki di Jepang. Rekor pada satu hari di Osaka, aku dan teman-teman berjalan kaki lebih dari 25.000 langkah dalam sehari. Jumlah itu pun diraih setelah akhirnya kami menyerah dan menggunakan taksi untuk membawa koper ke tempat penginapan. Jangan berharap ada Uber di sini karena dilarang beroperasi (kalau Uber Eat boleh). Nikmati saja olah raga gerak jalan yang menyehatkan ini, sebelum kembali ke Jakarta yang sangat mendukung untuk mager alias malas gerak.

Comments