Apakah Perlu Lanjut Kuliah S2 di Bidang Desain?

Kini semakin banyak lulusan sarjana desain yang memilihi untuk melanjutkan S2 dengan alasan ingin menambah ilmu. Tentu tidak salah, karena memang perkuliahan biasanya sarat ilmu dan melatih critical thinking. Yang agak salah adalah ketika berpikir dengan kuliah S2 maka akan menjadi sebuah shortcut untuk meraih karir impian.

Dari data survey AIGA pada 2019, ada 6% dari 9.429 desainer di Amerika Serikat yang lulusan S2. Sementara itu data dari 10.000 freelancer desain dari 42 negara menyebutkan ada 9% yang lulus dari program S2 (99designs, 2019). Di Indonesia sendiri, masih jarang ada lowongan pekerjaan yang mensyaratkan ijasah S2 kecuali pengajar, peneliti, maupun tenaga ahli (kalau yang ini saya sendiri masih belum menemukan yang butuh lulusan S2 desain).

from pexels.com

Mari kita kembali lagi pada masa-masa kuliah S1. Seberapa banyak sih, kemampuan practical yang diajarkan di sana, seperti keahlian dalam mengoperasikan software ataupun menggambar? Sepengalaman saya sendiri (dulu kuliah urusan desain produk), banyak skill yang pada akhirnya dipelajari dengan cara belajar otodidak dari Youtube, belajar dengan teman, dan lewat trial and error. Hal-hal seperti ini memang lebih membutuhkan jam terbang dan lewat perkuliahan dapat diakselerasikan dengan tugas-tugas, ilmu-ilmu teori, sejarah, maupun ilmu di luar kelas seperti melatih softskills dan networking

Begitu pula S2. Bahkan bisa jadi lebih banyak teori dan pembahasan isu-isu di bidang desain yang tidak secara langsung terkoneksi dengan kemampuan desain. Semakin banyak artikel dan buku yang harus dibaca dan semakin banyak essay yang harus ditulis. Kemampuan mendesain juga ditentang lebih jauh dengan brief (alias tugas) yang semakin absurd juga (alias suka merasa kok rasanya terlalu futuristik atau konseptual yang susah dijual). But that's the art of learning


"Be a great designer is not only about design skills."
Banyak mahasiswa, calon mahasiswa, saya juga mengakui, hanya tahu bahwa kalau gambar bagus, desain bagus, nilai bagus, artinya akan menjadi seorang desainer yang hebat, keren, kece, dan calon orang sukses. Semakin menyelami industri desain, semakin saya menyadari hal tersebut tidaklah benar.

Coba kita tengok lagi teman-teman kuliah yang dulu mendapat nilai bagus dan yang nilainya pas-pasan, ada di mana mereka saat ini? Eits, tunggu dulu, jangan lupa di mana kita saat ini? Sudah dapat gambarannya? Oke cukup. Stop tidak perlu dibanding-bandingkan karena pada kenyataannya kita semua bergerak di jalur lintasan lari yang berbeda. You are you, he is him, she is her. Semua orang memiliki tujuan dan definisi sukses yang tak sama.

Balik lag ke definisi awal, apa definisi seorang desainer impian yang ingin kamu wujudkan? Tulis, resapi, dan mari kita kembali ke topik utama kita.

Jika kamu merasa bahwa skill practical adalah nomor satu, maka saya akan menyarankan S2 tidak terlalu perlu. Lebih baik mengambil kursus untuk belajar software, atau langsung bekerja di perusahaan (bisa agensi maupun startup). Misalnya, bagi yang ingin melatih skill UI atau UX bisa langsung coba internship atau kerja di startup. Nanti setelah dua tahun (sebagaimana durasi kuliah S2 di banyak tempat), coba evaluasi lagi apakah sudah berhasil mendapat ilmu-ilmu yang diharapkah kah? Apakah skill sudah semakin meningkat dan bisa mengembangkan karir?

Jika kamu merasa ingin mendalami sebuah keilmuan dan bercita-cita untuk mengajar atau menjadi peneliti, maka S2 sangat disarankan. Untuk menjadi guru atau dosen, tentu butuh bekal lebih banyak untuk dapat menghasilkan anak didik yang lebih berkualitas. Pengajar yang baik (bagi saya) harus dapat memancing rasa haus belajar kepada anak didiknya dan terus up to date dengan isu-isu terkini maupun masa depan yang dapat menjadi bekal untuk mereka di dunia kerja dan dunia nyata.

Jika kamu merasa sudah cukup memiliki skill dan ingin menjadi konsultan demi mendapat bayaran proyek yang lebih besar, maka S2 adalah sebuah pilihan. Dulu saya selalu bertanya-tanya, kenapa ada orang yang kuliah S2 tapi auranya terasa kurang antusias dan terkesan hanya ingin memperoleh ijasah. Ternyata saya baru mengetahui bahwa dalam beberapa kasus, seseorang dengan ijasah S2 bisa mendapat gaji lebih besar dibandingkan dengan lulusan S1 walaupun kemampuan mereka setara (atau bahkan pengalaman si lulusan S2 lebih minim). Tidak bisa disalahkan juga, karena memang sistemnya seperti itu. Kenapa saya bilang pilihan? Karena di beberapa tempat, masih banyak pula yang lebih mengutamakan pengalaman dan skill dari pada jenjang pendidikan. Tetapi jika memang dirasakan perlu, maka silakan mengambil S2.

Jika kamu ingin dan butuh mempelajari hal di luar desain yang dapat memperkuat ilmu desain praktis, maka S2 juga bisa menjadi pilihan. Contohnya, ingin belajar antropologi atau psikologi agar lebih mendalami UX. Atau ingin belajar ilmu komunikasi untuk menunjang desain visual kamu. Program S2 lebih fleksibel karena bisa menerima mahasiswa dari jurusan lain (jangan lupa yang penting harus lolos seleksinya juga). Di program S2 juga nanti akan bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang keilmuan, pekerjaan, maupun umur yang menjadi sebuah bumbu tersendiri. Pokoknya enak hehe.

Jika kamu ingin mendapat pengalaman baru, melatih softskills, tambah networking, memperluas inspirasi, plus tambah ilmu, maka saya akan menyarankan sekalian saja coba ambil S2 di luar negeri atau luar daerah (alias merantau). Kuliah di luar zona nyaman akan jauh lebih menajamkan indera-indera. Bisa jadi skill dan ilmu yang kamu dapat tidak secara langsung berguna di kantor atau dunia kerja. Tapi toh, your life is not your job. Banyak ilmu-ilmu yang bisa kamu dapat yang bisa jadi tidak tertera di "skills required" saat mencari kerja. Tapi insya Allah ilmu tersebut bisa berguna secara tidak langsung di dunia kerja, keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

Silakan konsultasi juga ke dosen, mentor, senior, maupun orangtua sebelum memilih. Jangan lupa konsultasi juga kepada Allah Swt. agar selalu ditunjukkan jalan yang terbaik.

Comments