Sisi Lain Singapura

Ini adalah kunjungan saya yang ke tiga kalinya ke sebuah negara kecil yang berukuran lebih kecil dari Jakarta, yaitu Singapura. Saya masih ingat dulu saat tahun ke tiga perkuliahan, saya dan tiga orang teman pertama kali melakukan perjalanan backpacker ke luar negeri dan Singapura menjadi negara ke dua yang kami kunjungi setelah Malaysia. Jika dulu semua terasa "wah" dan "wow" meskipun cuaca sebelas dua belas dengan Jakarta, maka kunjunga ke tiga di usia yang lebih dewasa ini menghadirkan kesan yang berbeda.

Pada kunjungan pertama, rasanya ada deretan bucket list yang rasanya tak sabar untuk dicoret. Rasa lelah dan lapar menjadi nomor sekian. Wisata kuliner malah belum masuk kamus pribadi karena saat itu datang ke tempat-tempat turistik jauh lebih utama. Numpang menginap di tempat kenalan demi menghemat pundi demi pundi agar bisa membeli tiket ke tempat hiburan menjadi pilihan utama. Lalu setelah berhasil menjejakkan kaki di tempat-tempat tersebut, mengambil foto, ternyata hanya itu saja rasanya. Lumayan happy sesaat.

And then you want more. Something different. Something personal. Something satisfying your mind. 

Inilah yang akhirnya menjadikan kunjungan berikutnya menjadi berbeda. Pada kunjungan ke dua, saya bersama rombongan mengikuti itenerary yang telah ditentukan karena saya bersama dua orang teman menjadi juara dua di sebuah kompetisi startup nasional (kategori edukasi). Tempat-tempat yang kami datangi merupakan campuran tempat terkenal dan tematik sesuai dengan tema lomba, seperti mengunjungi kantor Shopee, Google, versi Silicon Valley-nya Singapura, dan beberapa markas startup lainnya yang diharapkan dapat memberikan inspirasi dan koneksi. Tak lupa mengunjungi Sentosa ke tempat foto 3D yang memiliki fitur AR. 

Pada kunjungan ke dua tersebut, saya mendapat sedikit insight dari teman saya Laras, yang sudah sering ke Singapura karena mengunjungi kakaknya yang tinggal di sana. Dia adalah orang pertama yang menunjukkan tempat-tempat asyik yang menjadi highlight jika "tinggal" di sana. 

Tinggal. Live. Bukan mengunjungi. Visit

Maka pada kunjungan ke tiga, seusai bazar usai (saya mengikuti bazar Public Garden menjual produk Lestari bersama Citra dari Oct18th Store), saya tak lagi terpaku dengan bucket list. Santai saja. It feels liberating. Satu-satunya tempat yang yang masih masuk bucket list saya adalah Supertree dan Jewel dan akhirnya berhasil kami kunjungi. Satu-satunya alasan saya ingin melihat Supertree secara langsung adalah memuaskan rasa penasaran setelah membaca berbagai artikel arsitektur dan desain yang membahas Supertree and its issues around sustainability

Supertree Groove di malam hari. Fadilah, 2019.

Maka pada kunjungan ke tiga, saya mendatangi lagi sebuah bangunan yang kini menjadi favorit saya, yaitu National Library. Bahkan perpusatakaan ini lebih ramah dari pada British Library yang berada di London. In fact, this is like the most friendly library with extensive book collection. Tak perlu registrasi, tak perlu antri membuat kartu anggota, tak perlu ribet memindahkan isi tas ke wadah plastik, tak perlu bertanya password wifi, bahkan tak perlu basa-basi if you already know the way. Sayangnya saya belum menemukan tempat untuk salat di sana. Haha itu saja. Di lantai atas juga ada study lounge yang bisa digunakan siapa saja untuk belajar maupun bekerja. Suasananya cukup sepi karena tidak ada yang mengobrol. 


Selain perpustakaan, saya juga mengunjungi daerah Geylang yang juga menjadi tempat tinggal mayoritas Muslim di sana. Bangunan pasar yang baru selesai direnovasi mengingatkan saya dengan pasar yang ada di Jakarta, tapi dengan versi pengunjung yang lebih sedikit. Suara musik yang dikeraskan memutar lagu Indonesia dari sebuah lapak. Buah potong, ikan segar, hingga deretan kios yang menjual baju muslim.

National Library dan lantai basement yang bisa dikunjungi siapapun, dan buku bebas ambil untuk dibaca. Dokumentasi pribadi. 2019



Pasar Geylang. Dokumentasi pribadi 2019.

Spanduk di depan sebuah masjid. Dokumentasi pribadi, 2019.

Tak jauh dari situ, saya mengunjungi sebuah masjid yang cukup luas. Saya menemukan masjid-masjid di Singapura tampaknya memilih menggunakan kipas angin raksasa dari pada AC, termasuk masjid yang saya kunjungi ini, juga Masjid Sultan yang ikonik. Sisanya sama saja. Tempat wudu yang menyediakan tempat duduk. Kotak donasi. Mukena yang disebut telekung daam bahasa Melayu. Ohiya, tempat wudunya menyediakan sabun tangan. 

Area wanita di Masjid Sultan. Dokumentasi pribadi 2019.
Berjalan-jalan ke tempat non-turis membuat saya melihat sisi lain Singapura. Misalnya di perpustakaan, saya mendapati banyak lansia yang datang dan membaca. Sepertinya mereka menghabiskan waktu di usia senja saat tak lagi ada pekerjaan yang biasa dikerjakan. Lalu banyak juga pelajar yang datang untuk belajar maupun mengerjakan tugas kelompok. 

Di pusat kota memang ramai, namun isinya lebih banyak turis. Warga lokal pastinya bekerja dari pagi sampai sore, dan saya selalu sulit membayangkan bagaimana rasanya tinggal di sebuah negara kecil seukuran satu kota. Sebuah negara yang tampaknya ingin dijadikan kiblat masa depan oleh Jakarta (dalam beberapa hal). 


Mustafa Center di malam hari. Dokumentasi pribadi 2019.
Pada kunjungan ke dua dan ke tiga, saya menyempatkan untuk bersilaturahmi dengan kak Hazlinda dan bang Latif, pasangan suami-istri yang saya jumpai tak sengaja saat berada di Cordoba beberapa tahun yang lalu. Setiap perjumpaan biasanya kami berbagi update kehidupan maupun isu bisnis dan pekerjaan seputar dua negara. 

Yang jauh lebih menyenangkan, kebetulan sekali teman kuliah saya sewaktu di London yang berasal dari Korea Selatan, juga sedang berlibur di Singapura bersama beberapa temannya. Kami berhasil berjumpa dan berbagi update kehidupan di sela-sela bazar. Waktu berlalu tapi belum banyak yang berubah ternyata, senangnya bertemu kawan lama.


Halal Nandos. Dokumentasi pribadi 2019.

Sebuah kebiasaan yang kini rasanya menjadi keharusan, yaitu mengontak teman lama yang tinggal di suatu tempat yang akan dikunjungi. Justru rasanya belum afdol kalau belum bertemu warga lokal di sana, atau setidaknya menemukan seorang teman baru. Entah teman seperjalanan, warlok, atau pelajar yang sedang menimba ilmu di sana. 

Bumi Allah ini memang luas dan rasanya tak lepas rasa syukur saya setiap bisa bertemu dengan orang-orang baik di setiap sudutnya. Begitu pula Singapura. Negara tetangga yang jauh lebih maju dari segi infrastruktur (lebih "maju" juga biaya hidupnya haha). Kalau buka youtube juga yang keluar iklan Shopee. Kini rasanya seperti Jakarta minus macet, minus perkampungan, minus ojek online, dan mata uang yang berbeda saja. 

Comments